Kepala Negosiator Iran Minta AS ‘Berhati-hati’ Usai Ancaman Trump
Berdasarkan laporan, kepala negosiator Iran mengimbau Amerika Serikat untuk bersikap “berhati-hati” setelah Presiden AS melontarkan ancaman akan menyerang Iran jika proxy Tehran di Lebanon melanjutkan aksi militer. Pernyataan itu muncul di tengah pembicaraan diplomatik yang sedang berlangsung di Swiss, di mana Wakil Presiden AS JD Vance memimpin upaya mediasi untuk mempertahankan Memorandum of Understanding yang rapuh.
Menurut data dari beberapa sumber internasional, ketegangan meningkat setelah Trump mengatakan akan “memukul Iran sangat keras lagi” jika kekerasan berlanjut. Iran menegaskan penolakannya untuk menghentikan pengayaan uranium, sementara ada klaim bahwa Selat Hormuz telah ditutup sebagai respons terhadap serangan yang dituduhkan terhadap Hezbollah. Belum dapat diverifikasi secara independen apakah Selat Hormuz benar-benar ditutup atau sejauh mana klaim tersebut berdampak pada lalu lintas minyak.
Ketegangan juga dipicu oleh peringatan dari Ketua Parlemen Qalibaf yang menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran “siap merespons dengan cara yang berbeda” jika negara itu diserang. Sumber lokal menyebutkan sempat terjadi bentrokan berat antar-kekuatan di kawasan yang berdekatan dengan wilayah konflik, namun detail dan jumlah korban belum jelas.
Hingga laporan ini ditulis, negosiasi di Swiss dilaporkan menunjukkan beberapa kemajuan oleh pihak-pihak yang terlibat, namun retorika keras dari Washington dan ancaman balasan dari Tehran tetap menjadi ancaman bagi kelangsungan gencatan senjata. Belum dapat diverifikasi secara independen klaim-klaim tentang penutupan jalur pelayaran atau rincian operasi militer terbaru.
Tim redaksi masih memverifikasi pernyataan resmi kedua belah pihak dan kondisi di lapangan sebelum laporan lanjutan diterbitkan.
Photo by: aboodi vesakaran, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel