Keluarga Korban Serangan Israel di Beirut Menuntut Keadilan
Berdasarkan laporan, keluarga-keluarga Lebanon berdiri di depan bangunan mereka yang hancur di pusat Beirut dan berjanji memperjuangkan keadilan setelah serangan udara Israel menewaskan anggota keluarga mereka.
Menurut data, pada 8 April, beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan antara Amerika Serikat dan Iran, Israel melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran di seluruh Lebanon, termasuk di jantung ibu kota, yang menurut laporan menewaskan lebih dari 350 orang. Belum dapat diverifikasi secara independen.
Sumber lokal menyebutkan serangan itu mengenai sebuah gedung di distrik Tallet al-Khayat yang bernuansa makmur di pusat kota. Di gedung tersebut, ibu dan saudara laki-laki Wael Sabbagh serta orang tua dan kerabat lain milik Ghida Krisht dilaporkan tewas; total sembilan orang dikabarkan tewas di bangunan itu.
“Saya kehilangan ibu, saudara laki-laki, rumah saya, masa kecil saya,” kata Sabbagh, yang kini tinggal di Meksiko, melalui pernyataan yang beredar di media sosial.
Hingga laporan ini ditulis, keluarga-keluarga korban menyatakan mereka akan menuntut pertanggungjawaban internasional dan lokal, sambil mengumpulkan bukti-bukti atas apa yang mereka sebut sebagai pembantaian terhadap warga sipil. Tim redaksi masih memverifikasi rincian kejadian serta identitas semua korban.
Sumber lokal menyebutkan para korban dan tetangga mereka hidup di kawasan itu selama puluhan tahun dan merasa aman sebelum serangan yang oleh sebagian warga disebut sebagai “Rabu Hitam” ini terjadi. Belum dapat diverifikasi secara independen klaim-klaim lain terkait sasaran serangan dan motif di baliknya.
Tim redaksi masih memverifikasi kronologi lengkap dan anggota keluarga yang hilang atau tewas serta akan memperbarui laporan bila informasi tambahan tersedia.
Photo by: Ahmed akacha, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship