Israel Berencana Bangun Pusat Warisan Yahudi di Bekas Bandara Atarot Yerusalem
Berdasarkan laporan dari Middle East Monitor, pemerintah Israel dikabarkan akan menyetujui proyek senilai 3 juta shekel atau sekitar 1 juta dolar AS untuk membangun pusat warisan Yahudi di lokasi bekas Bandara Internasional Yerusalem (Atarot) yang terletak di Yerusalem Timur. Menurut data yang tersedia, proyek yang diusulkan oleh Menteri Warisan Amichai Eliyahu ini bertujuan untuk merestorasi terminal bersejarah guna menonjolkan peran Yerusalem dalam sejarah penerbangan regional, meskipun lokasi tersebut merupakan pusat penerbangan Palestina sebelum pendudukan tahun 1967.
Sumber lokal menyebutkan bahwa langkah ini mendapat kecaman keras dari pejabat Palestina yang memandangnya sebagai bagian dari upaya strategis untuk melakukan “Yahudisasi” terhadap kota tersebut dan mengaburkan identitas Arab-Islam di wilayah yang secara hukum internasional dianggap sebagai wilayah pendudukan. Proyek ini muncul di tengah rencana kontroversial lainnya untuk membangun 9.000 unit pemukiman ilegal di situs yang sama.
Hingga laporan ini ditulis, ketegangan di Yerusalem juga diwarnai dengan meningkatnya insiden pelecehan terhadap rohaniwan Kristen. Otoritas Israel baru-baru ini mendakwa seorang warga, Yona Schreiber, atas serangan bermotif agama terhadap seorang biarawati Katolik. Tim redaksi masih memverifikasi laporan terkait peningkatan sentimen anti-Kristen yang memicu kekhawatiran internasional mengenai akuntabilitas hukum di wilayah tersebut.
Di sisi lain, kebijakan ekonomi Israel terhadap Otoritas Palestina juga menjadi sorotan tajam. Belum dapat diverifikasi secara independen mengenai total kerugian jangka panjang akibat penahanan pendapatan pajak Palestina oleh pemerintah Israel, namun pengamat menyebut hal ini sebagai bentuk tekanan ekonomi yang sistematis. Sementara itu, gejolak politik internal Israel terus berkembang seiring dengan kritik terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dinilai gagal mencapai target militer di berbagai lini, yang kemudian dimanfaatkan oleh faksi kanan ekstrem untuk memperkuat pengaruh politik mereka.
Photo by: Zeev Hazenfratz, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship