Menuju Pembebasan Palestina: Perlawanan yang Melintasi Batas
Berdasarkan laporan Middle East Eye yang mengulas kumpulan esai berjudul Towards Palestinian Liberation, buku yang disunting Abi Bae dan Hamza Hamouchene menempatkan perjuangan Palestina dalam konteks perjuangan anti-kolonial global. Buku yang diterbitkan Daraja Press pada 2026 ini membahas bagaimana gerakan perlawanan dibangun, bagaimana pengetahuan kolektif ditransmisikan lintas generasi, dan bagaimana solidaritas internasional terbentuk melalui praktik politik konkret.
Menurut data dari bab-bab dalam buku tersebut, kekuatan Israel dipertahankan lewat struktur politik ekonomi regional yang melibatkan strategi AS, modal Teluk, koridor energi, jaringan perdagangan, dan normalisasi militer. Analisis ini menegaskan bahwa pembebasan Palestina memerlukan konfrontasi terhadap struktur-struktur yang terus mereproduksi dominasi, bukan sekadar perubahan perbatasan.
Buku ini bergerak melintasi Afrika, dunia Arab, Asia, dan Amerika, mengembalikan kembali sejarah di mana Palestina menjadi bahasa politik bersama di kalangan gerakan yang melawan kolonialisme, rasisme, dan intervensi imperialis. Bab tentang Mesir dan Sudan menonjol: penulis menilai keterikatan rezim otoriter pada tatanan regional yang melindungi Israel, sekaligus menegaskan peran rakyat dalam membalikkan keseimbangan kekuatan. Sumber lokal menyebutkan jaringan solidaritas yang terus aktif dalam aksi-aksi mahasiswa dan serikat buruh di beberapa negara, meski intensitasnya bervariasi.
Topik lain yang mendapat sorotan adalah konsep “eco-apartheid”, yang menjelaskan bagaimana retorika keberlanjutan dapat digunakan untuk melegitimasi penggusuran, pemisahan rasial, dan penciptaan zona korban ekologis. Hingga laporan ini ditulis, para penulis menekankan bahaya greenwashing yang dipasangkan dengan proyek-proyek militer dan pembangunan yang menguntungkan investor besar.
Dalam bab strategis, karya yang mengutip gagasan Eqbal Ahmad menyarankan pendekatan praktis: mengutamakan organisasi politik yang disiplin dan evaluasi jujur atas kekuatan, serta memprioritaskan pendidikan politik, boikot, aksi serikat, dan pembangunan aliansi di pusat imperium. Solidaritas, menurut teks ini, adalah praktik yang harus diorganisir, bukan sekadar sikap moral.
Buku ini juga mencatat kehilangan beberapa suara penting dari gerakan, termasuk kematian peneliti dan aktivis Muzan Alneel pada 15 April 2026. Tim redaksi masih memverifikasi rincian terkait kematiannya, namun bab yang ditulisnya tetap dianggap sebagai warisan intelektual yang penting bagi analisis hubungan antara solidaritas Palestina dan revolusi Sudan.
Beberapa klaim yang dikutip dalam ulasan, termasuk referensi ke penilaian sejumlah ahli tentang tindakan di Gaza, disebut dalam sumber-sumber yang dikutip penulis. Belum dapat diverifikasi secara independen semua klaim tersebut oleh redaksi kami; pembaca diimbau untuk merujuk langsung pada publikasi dan data primer. Tim redaksi masih memverifikasi informasi tambahan terkait penafsiran geopolitik yang dikemukakan dalam buku.
Towards Palestinian Liberation dinilai oleh pengulas sebagai upaya mengembalikan bahasa pembebasan ke arena politik yang lebih luas, mengingatkan bahwa solidaritas antikolonial dapat direvitalisasi melalui organisasi, ingatan kolektif, dan aksi bersama. Buku ini menghadirkan peta musuh bersama sekaligus kemungkinan bersama bagi gerakan-gerakan yang ingin mengatasi tatanan kolonial dan imperialisme.
Photo by: Monirul Islam, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel