Trump Klaim ‘Tak Terbatas’ Kekuasaan setelah Perang dengan Iran
Berdasarkan laporan, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tidak ada batasan terhadap kekuasaannya setelah berakhirnya konflik bersenjata yang melibatkan Iran. “There are no limits. We defeated them totally militarily,” ujar Trump, yang menurut laporannya menyebut kemenangan militer penuh dan menyerukan agar kesepakatan yang dicapai dianggap sebagai “kapitulasi tanpa syarat” oleh Tehran.
Menurut data yang dipublikasikan terkait kesepakatan, memorandum pemahaman yang ditandatangani membuka jendela negosiasi selama 60 hari, membuka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas maritim, dan mengakhiri blokade militer AS terhadap pesisir Iran. Trump membela langkah itu dengan mengatakan kesepakatan diperlukan untuk mencegah “depresi duniawi,” meski klaim tentang kekuasaan tanpa batasnya memicu kontroversi di dalam negeri.
Sumber lokal menyebutkan adanya korban di kedua belah pihak selama 3,5 bulan konflik tersebut. Hingga laporan ini ditulis, belum ada angka resmi yang dikeluarkan pemerintah AS maupun Iran; informasi mengenai jumlah korban tewas di pihak Iran dan korban tewas di pihak lain belum dapat diverifikasi secara independen. Tim redaksi masih memverifikasi rincian lebih lanjut tentang jumlah dan identitas korban.
Menurut data yang dikemukakan oleh beberapa anggota Kongres dan analis, biaya konflik diperkirakan mencapai sekitar US$100 miliar, suatu angka yang menjadi bahan kritik tajam dari Demokrat Kongres. Mereka menilai operasi militer gagal dalam mereduksi program nuklir Iran atau mendorong perubahan rezim, dan menyebut hasilnya sebagai kegagalan kebijakan luar negeri.
Belum dapat diverifikasi secara independen pula klaim bahwa penarikan blokade dan pembukaan kembali Selat Hormuz akan segera memulihkan kondisi ekonomi maritim secara penuh. Sumber lokal menyebutkan bahwa beberapa kapal perdagangan sudah kembali melintasi perairan tersebut, namun komunitas pelayaran internasional belum memberikan konfirmasi resmi terkait lalu lintas dan keamanan jangka panjang.
Hingga laporan ini ditulis, Gedung Putih belum merilis pernyataan rinci yang bisa diverifikasi mengenai batasan kekuasaan presiden dalam konteks kesepakatan tersebut, sementara para pengkritik menuntut transparansi lebih lanjut. Tim redaksi masih memverifikasi dokumen-dokumen terkait dan pernyataan resmi dari kedua belah pihak untuk memastikan akurasi berita ini.
Photo by: Markus Winkler, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel