Penutupan Selat Hormuz Bisa Picu Krisis Harga Pangan Global dalam 6-12 Bulan, FAO Peringatkan
Berdasarkan laporan dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), penutupan Selat Hormuz dapat memicu krisis harga pangan global yang parah dalam rentang enam hingga dua belas bulan. FAO menyebut gangguan ini sebagai “awal guncangan sistemik agrifood” yang bergerak melalui sejumlah tahap berantai.
Menurut data yang disampaikan FAO dalam podcast berjudul Policy Recommendations to Prevent a Global Food Crisis | Hormuz Crisis 2026, guncangan tersebut berlangsung bertahap: energi, pupuk, benih, penurunan hasil panen, kenaikan harga komoditas, lalu inflasi pangan. Hingga laporan ini ditulis, Selat Hormuz dilaporkan efektif tertutup sejak Februari. Belum dapat diverifikasi secara independen.
Dampak awal terlihat pada harga energi dan input pertanian. Menurut beberapa laporan media internasional, biaya pupuk melonjak antara sekitar 20% hingga 55%, sementara harga solar pertanian tercatat naik tajam — berbagai sumber melaporkan kenaikan antara 46% hingga 72% sejak konflik dan penutupan jalur pelayaran di kawasan. Akibatnya, petani di beberapa wilayah memilih mengurangi pemupukan atau meninggalkan sebagian lahan tanam karena biaya produksi yang melampaui potensi hasil.
Menurut data yang dirangkum dari analis pasar dan laporan berita, tekanan biaya ini sudah mulai memengaruhi harga grosir dan ritel: ada proyeksi kenaikan inflasi pangan yang signifikan, dengan beberapa perkiraan menyatakan inflasi pangan bisa mendekati dua digit apabila gangguan berlanjut hingga akhir 2026.
Selain itu, gangguan aliran minyak memicu langkah-langkah strategis oleh negara-negara produsen. Sumber lokal menyebutkan bahwa Uni Emirat Arab mempercepat pembangunan pipa “West-East” untuk mengalihkan ekspor dari Selat Hormuz ke pelabuhan Fujairah. Menurut laporan Reuters, ADNOC memperkirakan aliran minyak global membutuhkan setidaknya empat bulan setelah gencatan senjata untuk mencapai sekitar 80% dari level pra-perang, dan pemulihan penuh diperkirakan tidak akan tercapai sebelum 2027.
FAO dan para analis memperingatkan bahwa efeknya tidak hanya bersifat sementara di pasar energi: gangguan pasokan pupuk dan kenaikan biaya transportasi akan menurunkan penggunaan input pertanian, menekan produktivitas, dan akhirnya mendorong harga komoditas pangan dunia ke atas.
Hingga saat ini, dampak nyata di lapangan masih bervariasi antarwilayah. Beberapa negara eksportir besar sedang mencari cara untuk mengamankan pasokan pupuk dan energi, sementara negara-negara importir pangan yang bergantung pada komoditas global menghadapi risiko inflasi pangan yang membebani rumah tangga berpendapatan rendah.
Belum dapat diverifikasi secara independen berapa lama penutupan Selat Hormuz akan berlangsung dan sejauh mana konflik akan meluas. Tim redaksi masih memverifikasi rincian lebih lanjut dan akan memperbarui informasi bila ada konfirmasi tambahan dari sumber resmi atau lembaga internasional.
Sumber: FAO (podcast Hormuz Crisis 2026), laporan Anadolu, Reuters, serta ringkasan pemberitaan internasional terkait dampak pasar energi dan pertanian.
Photo by: Atlantic Ambience, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship