Tommy Robinson Kalah dalam Debat di Oxford Union yang Dipimpin Mahasiswi Palestina dari Gaza
Berdasarkan laporan, debat di Oxford Union pada Rabu malam berakhir dengan kekalahan tokoh sayap kanan Inggris, Tommy Robinson, dalam mosi “This House believes the West is right to be suspicious of Islam”. Debat itu dipimpin dan dibawakan oleh Arwa Elrayess, seorang mahasiswi Muslim keturunan Palestina dari Gaza yang menjabat sebagai presiden Oxford Union.
Menurut data dari penyelenggara, acara sempat tertunda beberapa jam karena ratusan pengunjuk rasa memblokir akses ke gedung. Sumber lokal menyebutkan kerumunan tersebut sempat mencapai sekitar 500 orang dan banyak yang mengenakan masker. Hingga laporan ini ditulis, jumlah pasti orang yang dicegah masuk dan detail insiden fisik masih belum dapat diverifikasi secara independen.
Di dalam kamar debat kehadiran jauh lebih kecil dari biasanya — diperkirakan kurang dari seratus orang — setelah acara dimulai hampir pukul 22.00, padahal seharusnya dimulai pukul 19.30. Tim redaksi masih memverifikasi klaim bahwa beberapa keluarga pembicara, termasuk keluarga Elrayess, dicegah masuk oleh demonstran.
Selama debat, Elrayess memilih untuk berbicara menentang mosi setelah mengumumkan dirinya tidak akan menjadi ketua sidang karena akan berpidato. Dalam pidatonya ia menekankan pentingnya kebebasan berbicara dan menekankan bahwa ajaran Islam memiliki tradisi kritis dan intelektual. “Free speech and debate is not something I do despite being a Muslim, it is something I do because of it,” kata Elrayess, disambut tepuk tangan gemuruh.
Beberapa pembicara lain yang muncul termasuk Laurence Fox dan Jacob Rees-Mogg. Tommy Robinson — yang nama aslinya Stephen Yaxley-Lennon — menyampaikan kritik keras terhadap Islam, mengutip ayat-ayat dan praktik di beberapa negara mayoritas Muslim untuk mendukung argumennya. Para penentang menantang kutipan dan konteks yang disampaikannya, dan beberapa pembicara oposisi membantah hubungan langsung yang dibuat Robinson antara agama dan tindakan individu.
Pada penghitungan akhir, mosi ditolak dengan suara 41 berbanding 57. Menurut data rapat, kekalahan ini terjadi meskipun kehadiran pendukung Robinson cukup signifikan di antara anggota yang berhasil masuk. Banyak mahasiswa yang sedianya memiliki tiket tetapi dicegah oleh massa di luar kemungkinan besar akan menentang mosi, sehingga komposisi audiens diperkirakan memengaruhi dinamika debat.
Beberapa pengamat menilai peristiwa ini sebagai momen penting: menurut mereka, sekelompok mahasiswa Muslim berhasil menegaskan komitmen terhadap kebebasan berbicara sekaligus menangkis narasi anti-Muslim lewat argumen terbuka. Namun ada pula kritik yang mengatakan bahwa memberi platform kepada figur kontroversial seperti Robinson justru bisa melegitimasi hal yang berbahaya.
Belum dapat diverifikasi secara independen semua klaim terkait tindakan pengunjuk rasa dan dampaknya terhadap akses ke dalam gedung. Tim redaksi masih memverifikasi kesaksian-saksian di lapangan dan akan memperbarui laporan jika ada informasi baru.
Photo by: Guy Joben, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel