PBB: Krisis Air di Afghanistan Memburuk pada 2025
KABUL — Berdasarkan laporan Program Pembangunan PBB (UNDP), krisis air bersih di Afghanistan semakin memburuk sepanjang tahun 2025. Menurut data yang dikutip dari pernyataan resmi UNDP, gelombang kekeringan dilaporkan meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, yang berdampak pada penurunan signifikan dalam ketersediaan air di berbagai wilayah.
Menurut data UNDP, kombinasi curah hujan yang rendah, mencairnya cadangan air tanah, dan pengelolaan sumber daya yang lemah memperparah akses masyarakat terhadap air minum dan irigasi. Dampaknya dirasakan oleh komunitas petani yang mengalami gagal panen, ternak yang kekurangan pakan dan air, serta meningkatnya kebutuhan akan bantuan kemanusiaan.
Sumber lokal menyebutkan sumur-sumur tradisional mengering dan warga terpaksa mengantri di titik-titik pasokan air yang tersisa. Beberapa laporan lokal juga menyatakan adanya ketegangan antarkomunitas atas akses ke sumber air, namun detail insiden tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Hingga laporan ini ditulis, UNDP dan organisasi kemanusiaan lainnya menyerukan adanya peningkatan bantuan internasional untuk memenuhi kebutuhan air darurat, rehabilitasi infrastruktur air, dan program konservasi. Belum ada angka pasti tentang jumlah orang yang terdampak secara langsung yang dapat dikonfirmasi secara independen dari pihak ketiga.
Sumber lokal menyebutkan keluarga-keluarga di provinsi-provinsi terdampak memprioritaskan penggunaan air untuk minum, sehingga kebutuhan sanitasi dan pertanian semakin terabaikan. Menurut data sementara yang disampaikan oleh lembaga bantuan, risiko kesehatan terkait sanitasi diperkirakan akan meningkat jika pasokan air tidak pulih.
Tim redaksi masih memverifikasi rincian lebih lanjut, termasuk data wilayah yang paling parah terdampak dan estimasi kebutuhan bantuan jangka panjang, serta upaya pemerintah Afghanistan dan mitra internasional dalam merespons krisis ini.
Photo by: Alexander F Ungerer, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship