Parlemen Turki Setujui UU Bersejarah Untuk Reintegrasi Militan PKK ● Daraa Kembali Bergairah dalam ‘Mewarnai’ Festival Musim Panas Horan ● Trump Tuntut Kompensasi dari Iran atas Dugaan Kekejaman Selama 50 Tahun ● PBB: Operasi Militer Israel di Gaza Terus Menempatkan Warga Sipil ‘Berisiko’ ● Khamenei Lakukan Perombakan Besar pada Pimpinan Angkatan Bersenjata dan IRGC: Enam Penunjukan Baru ● Pejabat ‘Board of Peace’ AS: Rencana Gaza Masih Berlaku Meski Netanyahu Menolak ● Hampir 6.000 Mengungsi dalam Sehari di Darfur Barat: Laporan IOM ● Ahli PBB Kecam Lonjakan Serangan terhadap Warga Palestina di Wilayah yang Diduduki ● Palestinian Red Crescent Buka Rumah Sakit Lapangan di Gaza untuk Hampir 500.000 Orang ● Pengawal Revolusi Iran: Rudal Kini Bisa Ubah Arah Saat Terbang untuk Mengelabui Pertahanan Udara ● Parlemen Turki Setujui UU Bersejarah Untuk Reintegrasi Militan PKK ● Daraa Kembali Bergairah dalam ‘Mewarnai’ Festival Musim Panas Horan ● Trump Tuntut Kompensasi dari Iran atas Dugaan Kekejaman Selama 50 Tahun ● PBB: Operasi Militer Israel di Gaza Terus Menempatkan Warga Sipil ‘Berisiko’ ● Khamenei Lakukan Perombakan Besar pada Pimpinan Angkatan Bersenjata dan IRGC: Enam Penunjukan Baru ● Pejabat ‘Board of Peace’ AS: Rencana Gaza Masih Berlaku Meski Netanyahu Menolak ● Hampir 6.000 Mengungsi dalam Sehari di Darfur Barat: Laporan IOM ● Ahli PBB Kecam Lonjakan Serangan terhadap Warga Palestina di Wilayah yang Diduduki ● Palestinian Red Crescent Buka Rumah Sakit Lapangan di Gaza untuk Hampir 500.000 Orang ● Pengawal Revolusi Iran: Rudal Kini Bisa Ubah Arah Saat Terbang untuk Mengelabui Pertahanan Udara ●

Koalisi Maritim 40 Negara Dipimpin Inggris-Perancis Amankan Selat Hormuz

Admin May 11, 2026 at 09:04
Koalisi Maritim 40 Negara Dipimpin Inggris-Perancis Amankan Selat Hormuz

Berdasarkan laporan dari beberapa media internasional, lebih dari 40 negara, dipimpin oleh Inggris dan Perancis, berkumpul untuk mengoordinasikan misi angkatan laut multinasional yang bertujuan mengamankan Selat Hormuz. Menurut data, misi ini difokuskan pada pengawalan kapal dan pembersihan ranjau untuk memulihkan pelayaran komersial yang terganggu sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran meningkat pada Februari 2026. Hingga laporan ini ditulis, Inggris telah memindahkan kapal perusak HMS Dragon dari Mediterania timur dan Perancis menempatkan kapal induk Charles de Gaulle sebagai langkah pencegahan; Perancis menegaskan bahwa operasi sebaiknya dikoordinasikan dengan Iran agar selat tetap terbuka dan pasar energi global stabil. Sumber lokal menyebutkan lebih dari belasan negara menunjukkan minat ikut serta, namun menurut data partisipasi penuh Angkatan Laut Kerajaan dapat dibatasi oleh keterbatasan sumber daya dan ukuran armada yang menyusut. Berdasarkan laporan lain, Tehran memperingatkan akan memberikan respons tegas terhadap penempatan kapal perang asing dekat Selat Hormuz dan menegaskan kedaulatan atas perairan strategis tersebut; klaim-klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen. Menurut data dari lembaga berita internasional, ketegangan diplomatik juga berlanjut: Washington menolak respons Iran terhadap proposal gencatan senjata, sementara insiden-insiden seperti kebakaran pada sebuah kapal kargo di lepas pantai Qatar akibat proyektil turut dilaporkan sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang rapuh. Hingga laporan ini ditulis, upaya diplomatik dan militer masih berlangsung dan situasi tetap tegang; tim redaksi masih memverifikasi rincian operasi dan klaim-klaim tertentu.

Photo by: hadi ahmadi, Pexel

Ruang Iklan

Tersedia untuk sponsorship

Bagikan Artikel

Berlangganan

Dapatkan Berita Terbaru

Daftarkan email atau nomor WhatsApp Anda dan kami akan mengirimkan berita-berita pilihan langsung ke Anda.

Kami tidak akan mengirimkan spam. Berhenti berlangganan kapan saja.