Iran Menolak Pembicaraan AS saat Selat Hormuz Tetap Ditutup Kepala PBB Temui Perwakilan Masyarakat Sipil Suriah di Damaskus Pemimpin Oposisi Israel: Prajurit Bayar Harga Kebijakan “Ceroboh” Netanyahu Iran: Pertukaran Pesan dengan AS Berlanjut, Namun Syarat untuk Berunding Tidak Ada Tentara Lebanon Kecam ‘Serangan dan Pelanggaran’ Israel yang Terus Berlangsung Protes Meletus di Tripoli atas Pemadaman Listrik, Jalan dan Kementerian Ditutup Haft Mewa: Tradisi Nowruz Afghanistan yang Kaya Makna dan Cita Rasa Tentara Sudan Klaim Kuasai Jalan Raya Strategis Penghubung Khartoum dan el-Obeid DR Kongo: Operasi Perenco Picu Ancaman Pencemaran Berat bagi Warga Muanda Dolar AS Turun Setelah AS Menangguhkan Serangan ke Iran Iran Menolak Pembicaraan AS saat Selat Hormuz Tetap Ditutup Kepala PBB Temui Perwakilan Masyarakat Sipil Suriah di Damaskus Pemimpin Oposisi Israel: Prajurit Bayar Harga Kebijakan “Ceroboh” Netanyahu Iran: Pertukaran Pesan dengan AS Berlanjut, Namun Syarat untuk Berunding Tidak Ada Tentara Lebanon Kecam ‘Serangan dan Pelanggaran’ Israel yang Terus Berlangsung Protes Meletus di Tripoli atas Pemadaman Listrik, Jalan dan Kementerian Ditutup Haft Mewa: Tradisi Nowruz Afghanistan yang Kaya Makna dan Cita Rasa Tentara Sudan Klaim Kuasai Jalan Raya Strategis Penghubung Khartoum dan el-Obeid DR Kongo: Operasi Perenco Picu Ancaman Pencemaran Berat bagi Warga Muanda Dolar AS Turun Setelah AS Menangguhkan Serangan ke Iran

Harga Kambing Idul Adha Ungkap Distorsi Ekonomi Perang Sudan

Admin May 24, 2026 at 19:03
Harga Kambing Idul Adha Ungkap Distorsi Ekonomi Perang Sudan

Berdasarkan laporan dari Dabanga Radio TV Online, pasar ternak di Darfur dan wilayah lain di Sudan dipenuhi kambing menjelang Idul Adha, namun perang yang berkepanjangan telah menciptakan ketidakseimbangan ekonomi yang tajam.

Menurut data pasar lokal yang dikumpulkan oleh wartawan lapangan, konflik yang membagi kontrol wilayah telah memicu selisih harga besar antarwilayah: di beberapa pasar pinggiran ternak menumpuk sehingga harga turun, sementara di daerah yang mengalami penutupan jalur distribusi atau penguasaan kelompok bersenjata harga melambung.

Sumber lokal menyebutkan pedagang enggan mengirim hewan ternak melintasi garis konflik karena risiko penjarahan, penyitaan, dan serangan, sehingga rantai pasok terganggu. Dampaknya, konsumen di kota-kota yang masih dapat diakses harus membayar jauh lebih mahal untuk kambing Idul Adha, sementara peternak di daerah lain kesulitan menjual hewan mereka.

Kondisi ini, menurut pengamat ekonomi lokal, memperlihatkan bagaimana perang memutarbalikkan mekanisme pasar: kelimpahan di satu tempat tidak mereduksi kelangkaan di tempat lain karena hambatan logistik dan keamanan.

Hingga laporan ini ditulis, permintaan untuk kambing Idul Adha tetap tinggi, tetapi volatilitas harga dan gangguan distribusi diperkirakan akan berlanjut seiring dinamika perang.

Belum dapat diverifikasi secara independen semua angka dan pernyataan di lapangan. Tim redaksi masih memverifikasi keterangan lebih lanjut dari pedagang, peternak, dan otoritas setempat.

Sumber: Dabanga Radio TV Online.

Photo by: Noor Aldin Alwan, Pexel

Ruang Iklan

Tersedia untuk sponsorship

Bagikan Artikel

Berlangganan

Dapatkan Berita Terbaru

Daftarkan email atau nomor WhatsApp Anda dan kami akan mengirimkan berita-berita pilihan langsung ke Anda.

Kami tidak akan mengirimkan spam. Berhenti berlangganan kapan saja.