Anak Yatim Gaza Temukan Pelipur Lara melalui Sepak Bola di Tengah Reruntuhan
Berdasarkan laporan Al Jazeera, Mohammed Eyad Azzam, 16 tahun, menjadi tulang punggung bagi neneknya setelah serangan udara Israel pada 2024 yang menyebabkan seluruh anggota keluarganya gugur.
Menurut data yang dikumpulkan oleh Palestinian Football Association (PFA), lebih dari 1.100 orang yang terkait dengan dunia olahraga telah gugur dan 265 fasilitas olahraga hancur di Gaza. Belum dapat diverifikasi secara independen.
Hingga laporan ini ditulis, PFA terus menyelenggarakan turnamen usia muda di sejumlah lapangan yang masih tersisa meski kondisi infrastruktur sangat terbatas.
Sumber lokal menyebutkan bahwa para remaja menempuh perjalanan berbahaya melintasi reruntuhan untuk bisa tiba di lokasi latihan dan pertandingan. Bagi banyak anak yatim, sepak bola menjadi alat untuk memproses duka, melepaskan energi negatif, dan menghormati impian profesional orang tua mereka.
PFA juga mengkritik FIFA karena apa yang dianggapnya sebagai “standar ganda” dalam penegakan sanksi internasional; klaim ini tim redaksi masih memverifikasi.
Para pelatih dan pekerja sosial mengatakan partisipasi dalam olahraga memberi manfaat psikologis nyata: meningkatkan rutinitas, membangun kebersamaan, dan memberikan tujuan bagi remaja yang kehilangan keluarga. Namun, dukungan fasilitas dan pendanaan masih sangat terbatas.
Belum dapat diverifikasi secara independen berapa banyak dari fasilitas yang rusak yang akan dapat diperbaiki dalam waktu dekat, dan bagaimana akses aman bagi anak-anak ke lapangan akan dipastikan.
Sumber lokal menyebutkan juga bahwa turnamen kecil ini kadang dihadiri komunitas setempat yang berupaya memberi bantuan makanan dan peralatan. Tim redaksi masih memverifikasi detail lebih lanjut terkait jumlah peserta dan jadwal kompetisi.
Photo by: Musa Alzanoun | موسى الزعنون, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship