The Guardian: Perintah Netanyahu Kuasai 70% Gaza Tumbangkan Rencana Trump Di Tengah Pemboman dan Pengungsian, Anak-anak Gaza Tetap Menyambut Kegembiraan Idul Serangan Drone Israel di Gaza City, Tiga Warga Palestina Gugur Beyond Gaza: Meluasnya Geografi Pengungsian Dari Spionase ke Provokasi: Mantan ‘Mata-mata Israel’ Serukan Persiapan Perang terhadap Turki dan Mesir Palestina Peringatkan Memburuknya Krisis Kemanusiaan di Gaza di Tengah Blokade Israel 9 Warga Palestina Terluka Akibat Pengeboman di Gaza pada Hari Ketiga Idul Adha Netanyahu Perintahkan Tentara Kuasai 70 Persen Jalur Gaza Prancis Desak Penyelidikan Pidana Usai Penganiayaan Warga Prancis di ‘Armada Keteguhan’ Pemecah Blokade Gaza Hingga Pemberitahuan Selanjutnya: Masjid Ibrahimi di Hebron Ditutup The Guardian: Perintah Netanyahu Kuasai 70% Gaza Tumbangkan Rencana Trump Di Tengah Pemboman dan Pengungsian, Anak-anak Gaza Tetap Menyambut Kegembiraan Idul Serangan Drone Israel di Gaza City, Tiga Warga Palestina Gugur Beyond Gaza: Meluasnya Geografi Pengungsian Dari Spionase ke Provokasi: Mantan ‘Mata-mata Israel’ Serukan Persiapan Perang terhadap Turki dan Mesir Palestina Peringatkan Memburuknya Krisis Kemanusiaan di Gaza di Tengah Blokade Israel 9 Warga Palestina Terluka Akibat Pengeboman di Gaza pada Hari Ketiga Idul Adha Netanyahu Perintahkan Tentara Kuasai 70 Persen Jalur Gaza Prancis Desak Penyelidikan Pidana Usai Penganiayaan Warga Prancis di ‘Armada Keteguhan’ Pemecah Blokade Gaza Hingga Pemberitahuan Selanjutnya: Masjid Ibrahimi di Hebron Ditutup

Tradisi Unik Rohingya: Syair Sufi dalam Irama Lokal Saat Salat Eid

Admin May 28, 2026 at 01:33
Tradisi Unik Rohingya: Syair Sufi dalam Irama Lokal Saat Salat Eid

Tradisi Unik Rohingya: Syair Sufi dalam Irama Lokal Saat Salat Eid

Perpaduan Harmonis Dua Tradisi

Rohingya, kelompok etnis Muslim Indo-Arya yang berasal dari Negara Bagian Rakhine di Myanmar, memiliki warisan budaya yang kaya dan unik. Salah satu tradisi paling menarik adalah praktik melagukan syair-syair Sufi dengan gaya lokal yang khas selama doa Eid. Tradisi ini merupakan perwujudan sempurna dari perpaduan antara irama tradisional Burmese dengan devosi Islam yang mendalam.

Latar Belakang Budaya Rohingya

Selama berabad-abad, musik tradisional Rohingya menjadi bagian integral dari kehidupan komunitas di Arakan. Musik ini mengiringi upacara keagamaan, perayaan komunal, praktik devosi Sufi, dan berbagai acara sosial lainnya. Instruksi musik dan pembelajaran tradisional diwariskan secara turun-temurun, menciptakan ekosistem budaya yang hidup dan dinamis.

Namun, sejak akhir tahun 1980-an, pemerintah Burma secara sistematis menekan kehidupan budaya Rohingya. Pada tahun 1991, seni musik pertunjukan dilarang, dan menjelang 2012, penggunaan mikrofon dibatasi dan pendidikan musik dibatasi. Praktik tradisional budaya Rohingya terpaksa berpindah ke ranah privat, terutama ke dalam rumah-rumah komunitas.

Syair Sufi: Ekspresi Spiritual dan Resiliensi

Syair-syair Sufi yang dilagukan oleh Rohingya bukan sekadar bentuk ibadah, tetapi juga medium untuk mengekspresikan identitas, perlawanan, dan harapan. Tradisi melagukan syair Sufi dengan irama lokal mencerminkan cara Rohingya mengintegrasikan ajaran Islam dengan warisan budaya Burmese yang mereka kenal sejak lama.

Dalam konteks perayaan Eid—momen spiritual terpenting dalam kalender Islam—praktik ini menjadi lebih bermakna. Saat salat Eid, komunitas Rohingya berkumpul untuk merayakan dengan cara yang menggabungkan:

  • Devosi Islam yang Autentik: Syair-syair yang dilagukan mengandung makna spiritual mendalam, merayakan kehidupan Nabi Muhammad dan ajaran-ajaran Islam
  • Irama Tradisional Burmese: Melodi dan ritme yang digunakan mencerminkan pengaruh budaya lokal Arakan yang telah menjadi bagian dari identitas Rohingya selama berabad-abad
  • Ekspresi Komunal: Tradisi ini memperkuat ikatan sosial dan spiritual dalam komunitas, menciptakan momen kebersamaan yang sakral

Tarana: Bentuk Lagu Rohingya yang Penuh Makna

Salah satu bentuk musik tradisional Rohingya yang paling berpengaruh adalah tarana. Lagu-lagu tarana adalah bentuk emosional yang kaya, sering kali mendokumentasikan pengalaman penindasan dan perlawanan. Dalam konteks modern, tarana telah menjadi sarana untuk menceritakan kisah-kisah tentang krisis kemanusiaan yang dialami oleh Rohingya.

Setelah pengungsian massal pada 2017-2018, musisi Rohingya di kamp-kamp pengungsi Bangladesh menemukan kebebasan baru untuk mempertunjukkan tarana. Lagu-lagu ini dipentaskan di acara-acara komunitas, fungsi PBB dan LSM, serta kampanye kesadaran masyarakat. Melalui tarana, Rohingya menyuarakan:

  • Pengalaman genosida dan trauma kolektif
  • Kehilangan hak-hak dasar dan tanah air
  • Harapan untuk kembali dan membangun kembali kehidupan

Pendidikan Musik dan Pelestarian Tradisi

Pendidikan musik Rohingya tetap bersifat informal dan berbasis rumah, ditransmisikan dari generasi ke generasi melalui interaksi langsung dan pembelajaran praktis. Namun, ada kekhawatiran yang semakin besar tentang kelestarian tradisi ini.

Generasi muda Rohingya, banyak di antaranya hanya mengenal kehidupan di kamp pengungsi, menghadapi tantangan unik. Pengaruh musik modern dan perubahan gaya hidup secara bertahap mengalihkan perhatian mereka dari warisan budaya tradisional. Pendidikan musik formal hampir tidak tersedia, dan praktik tradisional terus tergerus oleh modernitas.

Untuk mengatasi risiko ini, komunitas Rohingya telah mengambil inisiatif penting. Rohingya Cultural Memory Centre (RCMC), yang dibuka pada 2022, berkomitmen untuk melestarikan lagu-lagu tradisional dan, yang sama pentingnya, mendokumentasikan sejarah lisan pribadi yang menunjukkan bagaimana musik membentuk identitas Rohingya. Arsip musik Crossing Borders juga memainkan peran krusial dalam menjaga kenangan budaya ini agar tidak hilang.

Musik dalam Konteks Pengungsian

Meskipun menghadapi pembatasan di kamp-kamp pengungsi—termasuk izin perjalanan, pemeriksaan keamanan, penyitaan barang, dan batasan ukuran dan waktu pertemuan—musisi Rohingya telah menemukan cara untuk terus melestarikan tradisi mereka.

Musik menjadi sarana penting untuk:

  • Kesehatan Mental dan Emosional: Dalam kondisi hidup yang sulit, musik memberikan penghiburan dan cara untuk memproses trauma
  • Pendidikan dan Kesadaran: Lagu-lagu digunakan untuk kampanye kesehatan masyarakat, kebersihan, dan hak-hak perempuan
  • Aktivisme Budaya: Pertunjukan musik menjadi bentuk resistansi dan penegasan identitas Rohingya

Peran Syair Sufi dalam Identitas Rohingya

Meskipun pandangan terhadap musik sekular bervariasi dalam komunitas Rohingya—dengan sekitar 20% menghindari musik non-religius—syair-syair Sufi yang dilagukan selama Eid diterima secara luas sebagai bentuk ibadah yang sah dan penting.

Syair-syair ini melayani fungsi ganda:

  1. Fungsi Spiritual: Mendekatkan jiwa kepada Tuhan (Allah) melalui bahasa puisi yang indah dan melodi yang menyentuh hati
  2. Fungsi Sosial: Memperkuat ikatan komunitas dan memvalidasi identitas bersama sebagai Muslim Rohingya
  3. Fungsi Kultural: Melestarikan warisan budaya yang kaya dan kompleks yang menggabungkan pengaruh Islam dengan akar budaya lokal

Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan

Rohingya menghadapi tantangan signifikan dalam melestarikan warisan budaya mereka. Pengungsian, pembatasan di kamp, dan akses terbatas ke pendidikan formal membuat transmisi budaya menjadi semakin sulit. Namun, komitmen komunitas terhadap pelestarian budaya tetap kuat.

Inisiatif seperti RCMC, festival puisi, dan proyek dokumentasi menunjukkan tekad Rohingya untuk mempertahankan identitas budaya mereka meskipun dalam kondisi yang sangat menantang. Syair-syair Sufi yang dilagukan dalam irama lokal selama Eid adalah simbol hidup dari resiliensi ini—sebuah pengingat bahwa budaya yang autentik dan bermakna tidak dapat dipadamkan oleh penindasan atau pengungsian.

Kesimpulan

Tradisi Rohingya melagukan syair-syair Sufi dalam gaya lokal yang unik selama perayaan Eid adalah contoh indah tentang bagaimana satu komunitas dapat mempertahankan identitas spiritual dan budaya mereka di tengah kesulitan yang luar biasa. Perpaduan harmonis antara devosi Islam yang mendalam dengan irama tradisional Burmese mencerminkan sejarah kompleks dan kaya Rohingya.

Sementara komunitas ini terus berjuang untuk pengakuan, keadilan, dan pemulangan, warisan budaya mereka tetap berdiri sebagai bukti dari kekuatan, keindahan, dan ketahanan manusia. Dengan terus mendokumentasikan, melestarikan, dan merayakan tradisi-tradisi ini, komunitas Rohingya tidak hanya menjaga masa lalu mereka tetapi juga melindungi identitas dan harapan mereka untuk masa depan.

Photo by: Ikhlas Al Fahim, Pexel

Ruang Iklan

Tersedia untuk sponsorship

Bagikan Artikel

Berlangganan

Dapatkan Berita Terbaru

Daftarkan email atau nomor WhatsApp Anda dan kami akan mengirimkan berita-berita pilihan langsung ke Anda.

Kami tidak akan mengirimkan spam. Berhenti berlangganan kapan saja.