Tidak Ada Pemulihan bagi Rohingya yang Gugur dalam Pembantaian Arakan Army di Hoyyar Siri
Berdasarkan laporan Human Rights Watch, pada 2 Mei 2024 Arakan Army melakukan serangan yang menewaskan ratusan warga Rohingya dan membakar habis desa Hoyyar Siri di negara bagian Rakhine, Myanmar. Menurut data yang dihimpun organisasi itu, anggota Arakan Army dengan sengaja menembaki warga sipil tak bersenjata yang sedang mencari perlindungan setelah kelompok bersenjata maju ke dua pangkalan militer di sekitar lokasi.
Human Rights Watch menyebutkan telah mewawancarai puluhan saksi dan penyintas, serta menganalisis foto, video, dan citra satelit yang mengonfirmasi adanya mayat dan kerusakan luas di desa tersebut. Laporan mencatat daftar lebih dari 170 warga, termasuk sekitar 90 anak-anak, yang gugur atau masih hilang setelah pembantaian di Hoyyar Siri. Klaim angka korban yang tepat dan beberapa rincian lain belum dapat diverifikasi secara independen.
Saksi mata menggambarkan bagaimana anggota Arakan Army menembaki kelompok warga yang meninggalkan desa—beberapa di antaranya mengibarkan bendera putih—serta menembaki warga yang dikumpulkan di ladang dekat masjid. Sumber lokal menyebutkan pula tindakan perampokan terhadap uang dan perhiasan warga, penyiksaan terhadap tahanan termasuk kejutan listrik, serta penculikan perempuan dan anak perempuan Rohingya.
Hingga laporan ini ditulis, para penyintas masih belum bisa kembali ke rumah mereka; banyak yang ditempatkan secara efektif di kamp darurat yang diatur Arakan Army, mengalami pembatasan gerak, kerja paksa, serta kekurangan makanan dan layanan medis. Human Rights Watch juga melaporkan bahwa pada Februari 2025 Arakan Army memerintahkan relokasi semua warga yang tersisa ke kamp sementara, dan pada Agustus mengatur kunjungan media terkontrol di mana para penyintas dipaksa memberikan kesaksian yang membela kelompok bersenjata tersebut. Tim redaksi masih memverifikasi beberapa rincian terkait kunjungan media dan pemaksaan kesaksian itu.
Arakan Army membantah telah melakukan kejahatan perang dan menyatakan akan memfasilitasi penyelidikan oleh kelompok hak asasi yang dianggap kredibel. Namun, Human Rights Watch menilai baik militer Myanmar maupun Arakan Army bertanggung jawab atas pelanggaran serius dan mendesak kedua pihak agar segera menghentikan serangan terhadap warga sipil, membebaskan semua orang yang ditahan secara sewenang-wenang, serta memberikan pemulihan kepada korban dan keluarga mereka. Kedua pihak juga diminta untuk bekerja sama penuh dengan penyelidikan independen PBB dan mekanisme lain yang relevan.
Belum dapat diverifikasi secara independen sejauh mana langkah nyata telah diambil oleh pihak yang dituduh untuk menegakkan akuntabilitas dan pemulihan. Sumber lokal terus melaporkan kondisi kemanusiaan yang memburuk bagi penyintas, sementara tekanan internasional terhadap junta militer dan Arakan Army dinilai penting untuk menjamin perlindungan semua komunitas di Rakhine State.
Photo by: Rohingya Creative Production (RCP), Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship