Bahasa Rohingya: Kekayaan Serapan Arab-Persia dan Aksara Hanifi sebagai Simbol Identitas
Bahasa Rohingya: Kekayaan Serapan Arab-Persia dan Aksara Hanifi sebagai Simbol Identitas
Pengantar
Bahasa Rohingya (Ruáingya Zuban) adalah bahasa Indo-Arya Timur yang dituturkan oleh sekitar 1,5 hingga 3,2 juta penutur di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, dan wilayah Chittagong, Bangladesh. Lebih dari satu juta pengungsi dan diaspora Rohingya tersebar di Bangladesh, India, Pakistan, Malaysia, dan kawasan Teluk. Meskipun menghadapi penindasan sistematis dan perpindahan besar-besaran, bahasa ini tetap hidup sebagai simbol ketahanan dan identitas budaya komunitas Rohingya.
Apa yang membuat bahasa Rohingya istimewa adalah kekayaan sejarah linguistiknya—tercermin dalam kata-kata serapan dari Arab dan Persia—serta pengembangan aksara Hanifi Rohingya yang inovatif. Artikel ini mengeksplorasi dimensi-dimensi penting dari bahasa ini dan upaya komunitas untuk melestarikannya.
Sejarah dan Karakteristik Linguistik
Asal dan Hubungan Bahasa
Bahasa Rohingya adalah bagian dari cabang Bengali-Assam dalam keluarga bahasa Indo-Arya Timur. Ia erat kaitannya dengan dialek Chittagonian, Chakma, dan Noakhali, mencerminkan sejarah panjang kontak dengan berbagai budaya di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Secara historis, bahasa Rohingya adalah bahasa lisan yang kaya tradisi, namun selama berabad-abad telah mengalami kontak intens dengan bahasa-bahasa lain. Pengaruh terkuat datang dari:
- Bahasa Arab: Melalui tradisi keagamaan Islam dan perdagangan
- Bahasa Persia: Melalui jalur perdagangan historis dan pengaruh budaya
- Bahasa Burma: Melalui kontak geografis dan politis di Myanmar
- Bahasa Bengali: Melalui kesamaan keluarga bahasa dan kontak regional
Kontak-kontak inilah yang menghasilkan bahasa Rohingya yang kaya akan kosakata serapan, terutama dari Arab dan Persia.
Struktur Gramatikal
Bahasa Rohingya memiliki ciri-ciri gramatikal yang khas:
-
Urutan Kata (SOV): Bahasa ini mengikuti pola Subjek-Objek-Verba, yang umum di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.
-
Sistem Tense dan Aspek: Bahasa ini menandai tiga tense yang luas dan empat aspek, dengan penggunaan ekstensif sufiks verbal dan auxiliaries (contohnya: félai, félaat, táki).
-
Morfologi Kaya: Sistem kasus ditandai dengan akhiran yang berbeda:
- -aye (nominatif)
- -ar (genitif)
- -lla (datif)
- -re (akusatif)
- -loi (ablatif)
- Distinsi Gender, Angka, dan Person: Sistem pronomen bahasa ini secara hati-hati membedakan gender, angka (tunggal/jamak), dan person (orang pertama/kedua/ketiga).
Kekayaan Serapan Arab dan Persia
Pengaruh Budaya Keagamaan
Salah satu ciri paling menonjol dari bahasa Rohingya adalah kekayaan kata-kata serapan dari Arab dan Persia. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan refleksi dari sejarah budaya Rohingya yang dalam kaitannya dengan Islam dan tradisi pedagang di lautan Hindia.
Kata-kata serapan Arab dalam bahasa Rohingya mencakup:
- Istilah keagamaan: seperti nama-nama untuk konsep teologis, praktik ibadah, dan nilai-nilai moral
- Istilah hukum dan sosial: berkaitan dengan pemerintahan, administrasi, dan struktur masyarakat
- Istilah perdagangan: yang menunjukkan sejarah panjang Rohingya sebagai pengusaha dan pedagang
Serapan Persia serupa tercermin dalam:
- Sastra dan puisi: istilah yang berkaitan dengan seni, musik, dan ekspresi budaya
- Arsitektur dan keahlian: kata-kata untuk berbagai kerajinan dan bangunan
- Kehidupan istana dan tata cara: yang mencerminkan kontak historis dengan kerajaan-kerajaan yang berbahasa Persia
Fungsi Sosial dan Budaya
Kata-kata serapan ini bukan hanya penambahan kosakata pasif. Mereka berfungsi sebagai jembatan budaya dan alat untuk mengekspresikan konsep-konsep yang mendalam dan kompleks. Bagi komunitas Rohingya, penggunaan istilah Arab dan Persia dalam bahasa sehari-hari mencerminkan:
- Identitas Keagamaan: Penggunaan istilah Arab terutama dalam konteks religius memperkuat identitas Muslim Rohingya
- Prestise Budaya: Kata-kata serapan dari bahasa yang “lebih tinggi” secara sosial sering dianggap lebih elegan atau formal
- Konektivitas Global: Serapan ini menghubungkan bahasa Rohingya dengan dunia Muslim yang lebih luas, menciptakan sense of belonging pada komunitas global
Aksara Hanifi Rohingya: Inovasi untuk Pelestarian
Sejarah Pengembangan
Aksara Hanifi Rohingya adalah pencapaian luar biasa dalam sejarah linguistik komunitas Rohingya. Dikembangkan pada tahun 1980-an oleh Mohammad Hanif, aksara ini dirancang khusus untuk menulis bahasa Rohingya dengan cara yang mencerminkan struktur fonetik dan kebutuhan linguistik yang unik.
Pengembangan aksara Hanifi datang pada saat yang penting dalam sejarah Rohingya:
- Tahun 1982: Myanmar mengeluarkan Undang-Undang Kewarganegaraan yang secara efektif mengkesampingkan Rohingya dari hak-hak sipil
- Desember 2017: Kampanye militer Myanmar yang besar-besaran mengakibatkan pengungsian lebih dari 700.000 orang
Dalam konteks penindasan ini, pengembangan aksara Hanifi dapat dilihat sebagai tindakan afirmasi budaya dan upaya untuk melestarikan bahasa dalam menghadapi ancaman yang serius.
Karakteristik Teknis
Aksara Hanifi Rohingya adalah sistem penulisan alfabetik yang komprehensif dan terstruktur dengan baik:
Struktur Dasar:
- 28 huruf konsonan: Merepresentasikan semua fonem konsonan dalam bahasa Rohingya
- 10 vokal independen: Untuk situasi ketika vokal muncul di awal kata atau kata-kata yang dimulai dengan vokal
- Vokal yang melekat: Vokal dalam posisi normal melekat pada konsonan
- Tiga tanda tone: Untuk membedakan nada (tone-marking), aspek penting dalam bahasa Rohingya
Arah Penulisan:
- Ditulis dari kanan ke kiri (seperti Arab, Persia, dan Urdu), yang memudahkan integrasi dengan tradisi penulisan lokal dan keagamaan
Sistem Numerasi:
- Menggunakan modifikasi angka Hindu-Arab yang disesuaikan dengan kebutuhan bahasa
Skema Penulisan:
- Mengikuti skema empat garis (seperti sistem penulisan Latin), yang memudahkan pendidikan dan normalisasi
Standardisasi Internasional
Salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah aksara Hanifi adalah pengakuan internasionalnya:
- Juni 2018: Aksara Hanifi Rohingya secara resmi ditambahkan ke Unicode (U+10D00–U+10D3F), standar internasional untuk pengkodean karakter digital
- Pengakuan ini memungkinkan aksara untuk digunakan dalam teknologi digital, dari aplikasi ponsel hingga platform internet
Dengan masuknya Hanifi ke Unicode, komunitas Rohingya mendapatkan akses ke:
- Font digital: Berbagai jenis huruf yang dapat digunakan untuk publikasi digital
- Keyboard mobile: Keyboard khusus untuk smartphone dan tablet
- Konverter online: Tools yang memungkinkan konversi antara berbagai aksara Rohingya
- Platform digital: Kemampuan untuk menulis dan membaca Rohingya di media sosial, email, dan aplikasi lainnya
Aksara Rohingya Lainnya: Konteks yang Lebih Luas
Hanifi bukan satu-satunya sistem penulisan
Menariknya, Hanifi hanya salah satu dari beberapa aksara yang digunakan untuk menulis bahasa Rohingya:
- Perso-Arab (Rohingya Fonna):
- Aksara historis yang digunakan untuk teks keagamaan
- Dipromosikan secara formal sejak 1975
- Menyertakan diakrisi khusus untuk tone dan nasal
- Tetap penting untuk teks religius dan tradisional
- Latin (Rohingyalish):
- Dikembangkan pada tahun 1999
- Banyak digunakan dalam komunitas diaspora, terutama di negara-negara berbahasa Inggris
- Memudahkan integrasi digital dan komunikasi global
- Bengali dan Burma:
- Aksara lokal yang kadang digunakan karena kedekatannya dengan bahasa-bahasa regional
- Namun diterima dengan kurang luas dalam komunitas Rohingya
Keberagaman aksara ini mencerminkan kompleksitas situasi sosio-linguistik Rohingya: di berbagai konteks (keagamaan, digital, diaspora), aksara yang berbeda memainkan peran penting.
Peran Hanifi dalam Pelestarian Budaya
Merekam Tradisi Keagamaan
Salah satu fungsi utama aksara Hanifi adalah memungkinkan pencatatan dan pelestarian bacaan-bacaan keagamaan. Dalam tradisi Islam Rohingya:
- Hafalan Quran: Hanifi membantu dalam pembelajaran dan pengajaran Quran
- Hadis dan tafsir: Pemahaman-pemahaman lokal terhadap teks keagamaan dapat dicatat dan diteruskan
- Doa dan wirid: Praktik-praktik spiritual dapat didokumentasikan dalam bahasa ibu
Merekam Tradisi Lokal
Beyond keagamaan, Hanifi juga memungkinkan dokumentasi:
- Sastra lisan: Puisi, cerita rakyat, dan legenda tradisional Rohingya
- Sejarah lokal: Catatan tentang peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh komunitas
- Praktik budaya: Deskripsi tentang festival, adat istiadat, dan ritual lokal
- Pengetahuan tradisional: Obat-obatan tradisional, pertanian, dan keahlian
Dengan cara ini, Hanifi berfungsi sebagai alat untuk membekukan momen dalam waktu dan mencegah hilangnya warisan budaya dalam menghadapi tekanan asimilasi dan perpindahan.
Tantangan Pelestarian Bahasa Rohingya
Penindasan Sistematis di Myanmar
Bahasa Rohingya menghadapi tantangan serius:
- Larangan Pendidikan Formal: Bahasa Rohingya hampir tidak diajarkan di sekolah-sekolah resmi Myanmar
- Pembatasan dalam Kehidupan Publik: Penggunaan bahasa terbatas pada ranah privat dan keagamaan
- Tekanan Terhadap Asimilasi: Ada penekanan implisit untuk menggunakan bahasa Burma
Krisis Pengungsi
Pengungsian 2017 menciptakan tantangan baru:
- Tingkat Buta Huruf Tinggi: Sekitar 80% pengungsi Rohingya di Bangladesh mengalami buta huruf
- Pendidikan Terbatas: Akses pendidikan formal dalam bahasa Rohingya sangat terbatas
- Tekanan Bahasa Host: Di Bangladesh, ada tekanan untuk beralih ke Bengali
- Ketidakstabilan: Situasi yang tidak pasti mempersulit perencanaan pendidikan jangka panjang
Kurangnya Standardisasi
Meskipun ada tiga sistem aksara, tidak ada standarisasi tunggal yang disetujui secara universal. Hal ini:
- Menyulitkan pendidikan sistematis
- Membuat berbagi sumber daya digital lebih kompleks
- Menciptakan kebingungan tentang “aksara resmi”
Upaya Pelestarian Modern
Inisiatif Grassroots
Meskipun menghadapi tantangan berat, komunitas Rohingya terus berjuang untuk melestarikan bahasa mereka:
- Proyek Daftar Kata (RLPP): Usaha terkoordinasi untuk mendokumentasikan dan melestarikan kosakata
- Font dan Keyboard Digital: Pengembangan alat-alat teknologi untuk memudahkan penggunaan Hanifi
- Perekaman Suara: Mendokumentasikan bahasa lisan untuk generasi mendatang
- Pengajaran WhatsApp: Penggunaan aplikasi pesan untuk mengajar bahasa secara informal
- Radio dan Siaran: Menggunakan media untuk mempromosikan bahasa
Pengakuan Digital
Moment penting dalam upaya pelestarian:
- Tahun 2019: Google Translate menambahkan bahasa Rohingya, meningkatkan visibilitas global dan kemudahan penggunaan
- Unicode 2018: Standarisasi Hanifi membuka pintu untuk dukungan teknologi yang lebih luas
- Komunitas Online: Platform digital memungkinkan komunitas diaspora untuk tetap terhubung dengan bahasa
Peran Mohammad Hanif dan Tokoh-Tokoh Lainnya
Inisiatif-inisiatif ini dipimpin oleh individu-individu berdedikasi seperti Mohammad Hanif (kreator aksara Hanifi) dan Kyaw Hla Aung, yang telah mendorong standarisasi dan advokasi komunitas.
Signifikansi Bahasa Rohingya dalam Konteks Global
Simbol Identitas dan Ketahanan
Bagi komunitas Rohingya, bahasa bukan hanya alat komunikasi. Ini adalah:
- Simbol identitas: Di tengah upaya asimilasi dan dehumanisasi, bahasa adalah afirmasi “kami ada, kami berbeda, dan kami berharga”
- Tali penghubung budaya: Bahasa menghubungkan generasi-generasi dan menjaga memori kolektif komunitas
- Perlawanan: Mempertahankan dan menggunakan bahasa adalah tindakan ketahanan melawan penindasan
Pelajaran untuk Bahasa-Bahasa Minoritas Lainnya
Sejarah bahasa Rohingya dan aksara Hanifi menawarkan pelajaran berharga:
- Inovasi dari Bawah: Aksara Hanifi menunjukkan bahwa solusi dapat dikembangkan oleh komunitas itu sendiri, tanpa perlu menunggu persetujuan dari atas
- Pentingnya Teknologi: Integrasi dengan Unicode dan dukungan digital adalah penting untuk keberlanjutan bahasa modern
- Perlunya Standardisasi: Kesepakatan tentang aksara dan ortografi memudahkan pendidikan dan penyebaran
- Peran Diaspora: Komunitas diaspora sering kali menjadi garda terdepan dalam upaya pelestarian
Kesimpulan
Bahasa Rohingya adalah testimoni hidup terhadap ketahanan manusia dan kekuatan identitas budaya. Dengan akar-akarnya yang mendalam dalam sejarah regional, kekayaan kata-kata serapan Arab dan Persia yang mencerminkan kontak budaya berabad-abad, dan inovasi aksara Hanifi yang dibuat oleh komunitas Rohingya sendiri, bahasa ini jauh lebih dari sekadar sistem komunikasi.
Aksara Hanifi Rohingya, khususnya, adalah pencapaian yang luar biasa—bukti bahwa komunitas yang dimarginalisasi dapat mengambil tindakan kreatif untuk melestarikan warisan budaya mereka. Dengan pengakuan internasionalnya melalui Unicode dan integrasi dengan platform digital global, aksara ini membuka kemungkinan baru untuk pelestarian dan revitalisasi bahasa Rohingya.
Namun, tantangan yang dihadapi tetap berat. Penindasan sistematis, pengungsian massal, dan kurangnya sumber daya formal mengancam transmisi intergenerasi bahasa ini. Diperlukan upaya berkelanjutan dari komunitas, organisasi internasional, dan negara-negara penerima pengungsi untuk mendukung pelestarian bahasa Rohingya.
Bagi mereka yang percaya pada hak asasi manusia, preservasi budaya, dan keberagaman bahasa, nasib bahasa Rohingya adalah masalah yang sangat penting. Dalam setiap kata yang diucapkan, dalam setiap teks yang ditulis dalam aksara Hanifi, komunitas Rohingya berkata kepada dunia: “Kami di sini, kami punya cerita, dan cerita kami penting.”
Photo by: Fahim Raj, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel