Apa yang Mengkhawatirkan Israel dalam Kesepakatan AS–Iran yang Ditunggu?
Berdasarkan laporan dari sejumlah media dan lembaga pemantau, muncul kekhawatiran tajam di kalangan pengambil keputusan Israel seiring kemajuan pembicaraan antara Washington dan Teheran menuju sebuah nota kesepahaman yang dapat membuka jalan bagi perjanjian lebih luas.
Menurut data yang dilaporkan oleh Ynet dan The Jerusalem Post, pejabat Israel merasa terkejut dan waspada karena formulasi yang dibahas dipandang memberikan keringanan ekonomi besar bagi Iran tanpa menjamin pembongkaran program rudal balistiknya maupun jaringan proxy regional seperti Hezbollah. The Jerusalem Post bahkan menyebut angka keringanan finansial sekitar 12 miliar dolar dan periode teknis negosiasi 60 hari yang dinilai berisiko bagi keamanan regional.
Lembaga pemikir seperti Institute for the Study of War (ISW) dan Critical Threats Project melaporkan bahwa konsep nota kesepahaman itu berwujud dua tahap: tahap awal terfokus pada pencabutan sebagian sanksi dan pembukaan kembali Selat Hormuz, sementara tahap berikutnya menyentuh klausul-klausul yang menurut Israel belum cukup menjamin pelucutan kapasitas militer Iran. ISW juga memperingatkan bahwa pihak Iran melihat kesepakatan ini sebagai “taktik jeda” untuk mengamankan aset ekonomi dan membangun kembali kemampuan militernya, termasuk praktik “booby-trapping” situs nuklir agar tidak mudah dikuasai.
Menurut data yang dirangkum Haaretz dan analisis Ynet, ada skeptisisme di kalangan pejabat bahwa Washington mampu memaksa Iran untuk mengurangi stok uranium yang diperkaya atau membatasi program rudal secara permanen. Analis seperti Ron Ben-Yishai menekankan pilihan strategis sulit yang dihadapi Israel: antara tindakan militer langsung atau strategi diplomatik jangka panjang untuk melemahkan pengaruh proxy Iran.
Kekhawatiran Israel juga termasuk isu legitimasi — perasaan dikesampingkan dari proses negosiasi bilamana pembicaraan berlangsung terutama antara AS dan Iran tanpa konsultasi intensif dengan Jerusalem. Para pengkritik menilai hal ini dapat melemahkan pencegahan (deterrence) regional dan memungkinkan Iran memperoleh dana yang bisa digunakan kembali untuk program militer maupun dukungan kepada kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.
Hingga laporan ini ditulis, situasi di perbatasan Lebanon–Israel tetap tegang. ISW melaporkan bahwa IDF menangkap posisi-posisi strategis di selatan Lebanon untuk mengganggu jaringan Hezbollah; sumber lokal menyebutkan beberapa pejuang Hezbollah tewas dalam serangkaian operasi dan serangan drone yang berlanjut. Belum dapat diverifikasi secara independen jumlah korban dan rincian peristiwa tersebut, dan Tim redaksi masih memverifikasi klaim-klaim terkait pergerakan dan dampak militer di lapangan.
Belum dapat diverifikasi secara independen pula apakah ketentuan teknis yang kini dibahas benar-benar akan mencegah Iran memperkuat kemampuan nuklir atau rudalnya dalam jangka menengah. Sementara itu, sumber diplomatik memperkirakan Washington ingin mengamankan stabilitas energi dan mencegah eskalasi nuklir, tetapi langkah cepat tersebut dinilai oleh banyak pihak termasuk pejabat Israel berisiko mengorbankan jaminan jangka panjang bagi keamanan kawasan.
Tim redaksi masih memverifikasi semua rincian yang berkaitan dengan negosiasi, angka-angka finansial yang diklaim, dan laporan lapangan di Lebanon. Belum dapat diverifikasi secara independen pula sejauh mana klausul-klausul yang sedang dibahas akan mengikat atau hanya bersifat sementara.
Photo by: Lara Jameson, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel