Parlemen Turki Setujui UU Bersejarah Untuk Reintegrasi Militan PKK ● Daraa Kembali Bergairah dalam ‘Mewarnai’ Festival Musim Panas Horan ● Trump Tuntut Kompensasi dari Iran atas Dugaan Kekejaman Selama 50 Tahun ● PBB: Operasi Militer Israel di Gaza Terus Menempatkan Warga Sipil ‘Berisiko’ ● Khamenei Lakukan Perombakan Besar pada Pimpinan Angkatan Bersenjata dan IRGC: Enam Penunjukan Baru ● Pejabat ‘Board of Peace’ AS: Rencana Gaza Masih Berlaku Meski Netanyahu Menolak ● Hampir 6.000 Mengungsi dalam Sehari di Darfur Barat: Laporan IOM ● Ahli PBB Kecam Lonjakan Serangan terhadap Warga Palestina di Wilayah yang Diduduki ● Palestinian Red Crescent Buka Rumah Sakit Lapangan di Gaza untuk Hampir 500.000 Orang ● Pengawal Revolusi Iran: Rudal Kini Bisa Ubah Arah Saat Terbang untuk Mengelabui Pertahanan Udara ● Parlemen Turki Setujui UU Bersejarah Untuk Reintegrasi Militan PKK ● Daraa Kembali Bergairah dalam ‘Mewarnai’ Festival Musim Panas Horan ● Trump Tuntut Kompensasi dari Iran atas Dugaan Kekejaman Selama 50 Tahun ● PBB: Operasi Militer Israel di Gaza Terus Menempatkan Warga Sipil ‘Berisiko’ ● Khamenei Lakukan Perombakan Besar pada Pimpinan Angkatan Bersenjata dan IRGC: Enam Penunjukan Baru ● Pejabat ‘Board of Peace’ AS: Rencana Gaza Masih Berlaku Meski Netanyahu Menolak ● Hampir 6.000 Mengungsi dalam Sehari di Darfur Barat: Laporan IOM ● Ahli PBB Kecam Lonjakan Serangan terhadap Warga Palestina di Wilayah yang Diduduki ● Palestinian Red Crescent Buka Rumah Sakit Lapangan di Gaza untuk Hampir 500.000 Orang ● Pengawal Revolusi Iran: Rudal Kini Bisa Ubah Arah Saat Terbang untuk Mengelabui Pertahanan Udara ●

Syria Tolak Kewajiban Tambahan soal Oksida Nitrogen Sebelum Studi Menyeluruh

Admin July 17, 2026 at 03:08
Syria Tolak Kewajiban Tambahan soal Oksida Nitrogen Sebelum Studi Menyeluruh

Berdasarkan laporan dari Kementerian Administrasi Lokal dan Lingkungan Suriah, delegasi Suriah menegaskan penolakan terhadap pemberlakuan kewajiban tambahan terkait oksida nitrous (N₂O) sebelum dilakukan studi teknis, kelembagaan, dan finansial yang komprehensif, dengan mempertimbangkan kondisi negara berkembang dan kebutuhan mereka.

Menurut data yang disampaikan dalam pertemuan Open-ended Working Group (OEWG) terkait Protokol Montreal di Thailand, Suriah menyatakan kekhawatiran bahwa pembatasan tanpa kajian penuh dapat merugikan produksi pertanian dan ketahanan pangan di negara-negara berkembang. Delegasi tersebut mendorong pendekatan berbasis pembangunan kapasitas dan transfer teknologi sebagai alternatif daripada penerapan kewajiban baru.

Sumber lokal menyebutkan bahwa posisi Suriah sejajar dengan beberapa negara Arab lainnya, termasuk Saudi Arabia, Bahrain, Qatar, dan Lebanon, serta menyambut penarikan proposal terkait oleh Lesotho. Pernyataan tentang sinkronisasi posisi antarnegara tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Hingga laporan ini ditulis, belum ada keputusan akhir terkait perubahan kewajiban dalam protokol; Tim redaksi masih memverifikasi rincian pernyataan resmi dan dokumentasi pertemuan. Belum dapat diverifikasi secara independen seluruh rincian yang berkaitan dengan pembicaraan internal delegasi dan dampak teknis maupun finansial yang diperkirakan.

Photo by: Ahmed akacha, Pexel

Ruang Iklan

Tersedia untuk sponsorship

Bagikan Artikel

Berlangganan

Dapatkan Berita Terbaru

Daftarkan email atau nomor WhatsApp Anda dan kami akan mengirimkan berita-berita pilihan langsung ke Anda.

Kami tidak akan mengirimkan spam. Berhenti berlangganan kapan saja.