Di Balik Pengepungan RSF yang Didukung UAE terhadap El-Obeid, Sudan
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari wawancara dan analisis satelit, kota el-Obeid di provinsi North Kordofan, Sudan, berada di bawah pengepungan dan serangan drone intens yang dilancarkan oleh milisi Rapid Support Forces (RSF).
Sumber lokal menyebutkan bahwa RSF mengepung kota dari barat, utara, dan selatan, serta menargetkan infrastruktur vital seperti gardu listrik, SPBU, depot bahan bakar, dan jaringan pasokan air. “Penderitaan yang dialami warga el-Obeid akibat perang ini di luar nalar,” kata seorang pengacara setempat, Abdullah, kepada wartawan. Menurut data yang dianalisis oleh Humanitarian Research Lab di Yale, antara 25 Mei dan 25 Juni sedikitnya delapan stasiun bahan bakar mengalami kerusakan yang konsisten dengan pengeboman bertarget.
Serangan terhadap gardu listrik al-Abyad pada 18 Juni menyebabkan pemadaman luas, yang menurut saksi memperburuk krisis air dan memaksa banyak rumah sakit menutup layanan. Harga pangan, bahan bakar, dan air melonjak tajam; satu drum air dilaporkan naik dari 5.000 menjadi 25.000 pound Sudan.
Menurut data PBB dan laporan Associated Press, konflik yang memasuki tahun keempat ini telah menyebabkan puluhan ribu korban jiwa dan jutaan pengungsi di seluruh Sudan. Hingga laporan ini ditulis, pejabat PBB mengeluarkan peringatan darurat tentang risiko kejahatan kebiadaban di el-Obeid dan mendesak intervensi internasional.
Beberapa warga dan pejabat lokal menuduh Uni Emirat Arab mensuplai dan mendukung RSF. “Semua orang di sini tahu bahwa UAE mendukung RSF,” kata Abdullah. Klaim keterlibatan Emirat tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan pemerintah UAE sampai saat ini membantah tuduhan tersebut.
Akibat serangan drone, banyak pompa bahan bakar tidak berfungsi dan truk pengangkut logistik diserang di jalan raya nasional, sehingga pasokan barang kebutuhan pokok terganggu. Sumber lokal menyebutkan ratusan ribu orang kini tinggal di el-Obeid, termasuk lebih dari 105.000 pengungsi internal yang melarikan diri dari zona konflik lain.
Pihak militer Sudan mempertahankan posisinya di kota, namun warga mengatakan pertahanan udara tidak memadai untuk mencegah serangan drone yang terus berlangsung. “Kota ini melalui masa sulit; kami berharap perdamaian dan keamanan segera pulih,” ujar seorang warga.
Belum dapat diverifikasi secara independen semua klaim pihak-pihak yang saling tuduh. Tim redaksi masih memverifikasi rincian tambahan dan angka korban dari sumber resmi.
Photo by: Baraa Obied, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel