Penghinaan terhadap Ingatan Nakba Palestina di PBB
Berdasarkan laporan, peringatan Nakba yang jatuh baru-baru ini kembali memicu kritik terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena dinilai gagal menghadapi akar masalah sejarah dan kolonialisme yang dialami rakyat Palestina. Menurut laporan yang beredar, pidato Presiden Majelis Umum PBB, Annalena Baerbock, pada sesi peringatan tersebut tidak menyebutkan istilah “kolonialisme” dan tidak mengakui peran PBB dalam mendukung Rencana Pemisahan 1947 yang kemudian membawa serangkaian peristiwa pengusiran dan pengungsian Palestina.
Menurut data historis, Nakba 1948 menyebabkan ratusan ribu orang Palestina mengungsi dari tanah air mereka; kondisi yang kemudian menjadi bagian penting dari ingatan kolektif Palestina. Kritik yang dilontarkan menyatakan bahwa bahkan setelah apa yang beberapa pejabat sebut sebagai “Nakba 2.0”, PBB tetap enggan mengakui adanya dimensi kolonial dalam konflik yang sedang berlangsung.
Sumber lokal menyebutkan bahwa keluarga-keluarga Palestina merasakan penghinaan ketika peringatan resmi di forum internasional hanya diberi narasi yang menurut mereka netral atau mengabaikan tanggung jawab historis. Demonstrasi pro-Palestina juga terjadi di luar negeri—menurut data dan dokumentasi acara, aksi longmarch dan unjuk rasa tercatat di beberapa kota, termasuk di Toronto pada peringatan ke-78 Nakba—sebagai bentuk penolakan terhadap apa yang dianggap pemutihan sejarah.
Hingga laporan ini ditulis, klaim tentang kecenderungan PBB untuk menghindari kata “kolonialisme” dalam peringatan resmi masih memicu perdebatan di kalangan aktivis, akademisi, dan diplomat. Beberapa pihak menilai sikap itu memperpanjang penderitaan rakyat Palestina karena menolak mengakui dimensi struktural dari konflik, sementara pihak lain mempertahankan bahwa bahasa diplomatik dipilih untuk menjaga konsensus internasional.
Berdasarkan laporan dan analisis para pengkritik, penggunaan ingatan kolektif Palestina dalam pidato-pidato peringatan PBB terkesan instrumental—dipakai untuk merawat legitimasi PBB tanpa benar-benar menghadapi akar masalah. Pernyataan semacam ini, menurut sumber, menimbulkan kekecewaan mendalam di kalangan masyarakat Palestina yang kehilangan anggota keluarga dan tanah.
Belum dapat diverifikasi secara independen semua klaim terkait pernyataan resmi PBB yang disengaja untuk mengabaikan aspek kolonialisme; dokumentasi pidato dan reaksi diplomatik masih dikaji. Tim redaksi masih memverifikasi beberapa sumber dan pernyataan pihak terkait untuk memastikan akurasi pemberitaan sebelum publikasi berikutnya.
Photo by: Mohammed Abubakr, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship