AS dan Iran Sinyal Kemajuan saat Kesepakatan Hormuz Mengemuka
Berdasarkan laporan, Amerika Serikat dan Iran menunjukkan nada optimis menjelang kemungkinan tercapainya kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz dan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Draf nota kesepahaman yang dikabarkan melalui perantara Pakistan mencakup gencatan senjata, pencabutan blokade Iran, pembukaan kembali jalur pelayaran, dan penarikan sebagian pasukan AS, dengan negosiasi nuklir yang ditunda sekitar 30 hari. Belum dapat diverifikasi secara independen.
Menurut data intelijen AS yang beredar, petugas menemukan adanya ranjau bawah air di perairan sekitar Selat Hormuz, sebuah temuan yang memperburuk kekhawatiran akan eskalasi militer meskipun pembicaraan diplomatik dilaporkan berlangsung. Hingga laporan ini ditulis, militer AS tetap dalam status siaga tinggi.
Sumber lokal menyebutkan bahwa perundingan juga melibatkan Oman yang dikabarkan sedang berdiskusi dengan Iran tentang mekanisme pungutan bagi kapal yang melintas. Iran disebut membentuk badan yang diberi nama Persian Gulf Strait Authority dan berusaha mengemas pungutan sebagai ‘biaya layanan’ untuk menghindari batasan hukum internasional; pemerintahan AS menilai proposal tersebut tidak dapat diterima.
Sekretaris Negara AS Marco Rubio mengakui adanya “beberapa kemajuan” dalam pembicaraan, tetapi menegaskan tuntutan inti Washington — termasuk penyerahan uranium yang diperkaya dan jaminan navigasi tanpa pungutan — masih menjadi garis merah. Presiden AS Donald Trump menggambarkan peluang tercapainya kesepakatan sebagai ’50/50 chance’ antara finalisasi kesepakatan dan potensi dilanjutkannya operasi militer.
Iran memperingatkan masih terdapat jurang besar yang harus dijembatani namun menyatakan siap mengakhiri konflik jika kesepakatan yang layak tercapai; pihak Teheran juga menegaskan telah membangun kembali kapabilitas militernya dan akan merespons jika negosiasi gagal. Tim redaksi masih memverifikasi rincian pernyataan resmi dari kedua belah pihak.
Belum dapat diverifikasi secara independen bagaimana mekanisme teknis pembukaan kembali Selat Hormuz akan diterapkan, termasuk soal biaya transit dan pengawasan pelayaran internasional. Jika benar terjadi, kesepakatan itu berpotensi meredakan tekanan pada jalur perdagangan utama global, namun ketegangan dan risiko eskalasi tetap tinggi sampai kesepakatan ditandatangani dan diverifikasi oleh pihak-pihak terkait.
Tim redaksi masih memverifikasi informasi tambahan dan akan memperbarui laporan bila konfirmasi lebih lanjut tersedia.
Photo by: Lara Jameson, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship