Turki dan Arab Saudi: Dari Rival Menjadi Mitra Strategis
Berdasarkan laporan Middle East Eye, hubungan antara Turki dan Arab Saudi mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, bergerak dari persaingan panas menuju kerja sama strategis.
Menurut data yang dikumpulkan oleh media internasional, perubahan itu terlihat jelas ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman terlihat melakukan salat Jumat bersama di Mekkah, didampingi Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Sumber lokal menyebutkan momen tersebut memiliki makna simbolis yang kuat bagi upaya normalisasi hubungan kedua negara.
Hubungan kedua negara panjang dan kompleks. Sejarah ketegangan berakar dari persaingan kepemimpinan Sunni, termasuk konflik lama antara Rumah Saud dan Kekaisaran Ottoman serta perselisihan soal situs-situs warisan Islam. Turki sempat mengecam pembongkaran benteng al-Ajyad di Mekkah pada 2002, sementara Riyadh membela tindakannya atas dasar kedaulatan dan kebutuhan penampungan jemaah.
Perpecahan tajam muncul selepas Arab Spring, ketika Ankara dan Riyadh mengambil kebijakan berbeda di Mesir, Qatar, Libya, dan arena regional lain. Titik terendah hubungan terjadi setelah pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul pada 2018; otoritas Turki mengatakan pemeriksaan menunjukkan keterlibatan pejabat tinggi Saudi, sementara Riyadh membantah sebagian tuduhan tersebut.
Hubungan kedua negara mulai membaik pada 2022, dengan kunjungan Mohammed bin Salman ke Ankara dan kesepakatan untuk meningkatkan kerja sama di bidang moneter, pertahanan, energi, dan pariwisata. Hingga laporan ini ditulis, proses rekonsiliasi tersebut semakin diperkuat lewat penandatanganan nota dan perjanjian bilateral serta trilateral, termasuk pakta pertahanan dengan Pakistan yang digambarkan sebagai langkah historis.
Menurut data perdagangan yang dipublikasikan sebelumnya, ketegangan menyebabkan penurunan ekspor Turki ke Saudi yang signifikan pada puncak perselisihan; namun perjanjian baru dan pembelian seperti kontrak drone pada 2023 menunjukkan adanya dorongan untuk pemulihan ekonomi dan kerja sama pertahanan. Tim redaksi masih memverifikasi detail teknis beberapa kontrak dan cakupan operasionalnya.
Di arena regional, kedua negara kini menunjukkan titik temu kepentingan: dukungan terhadap pemerintahan baru di Suriah, sikap yang lebih seragam di Libya, serta dukungan terhadap Angkatan Bersenjata Sudan di tengah konflik lokal. Sementara itu, persaingan lama dengan Uni Emirat Arab tampak menggeser peta aliansi Teluk, menempatkan Riyadh dan Ankara lebih dekat satu sama lain dalam beberapa isu.
Belum dapat diverifikasi secara independen sejauh mana semua kesepakatan baru itu telah diimplementasikan secara penuh, atau bagaimana mereka akan mempengaruhi dinamika geopolitik yang lebih luas, termasuk hubungan dengan negara-negara seperti Iran dan aktor non-negara di kawasan.
Sumber lokal menyebutkan bahwa gestur simbolis seperti salat bersama di Mekkah dimaksudkan untuk mengirim sinyal persatuan dunia Sunni, namun pengamat menilai pendekatan pragmatis dan kepentingan ekonomi juga menjadi pendorong utama rekonsiliasi.
Tim redaksi masih memverifikasi beberapa klaim historis dan dokumen perjanjian yang dipublikasikan pihak terkait. Liputan ini akan diperbarui bila informasi tambahan diverifikasi.
Photo by: Tuğba, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel