Pemimpin Hezbollah Kecam Negosiasi Langsung Lebanon-Israel
Berdasarkan laporan, pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, dalam pidato yang disiarkan televisi mengkritik keras negosiasi langsung antara pemerintah Lebanon dan Israel. Menurut data, pembicaraan tersebut merupakan putaran ketujuh yang dimediasi AS dan berlangsung di Roma dengan tujuan menerapkan kerangka kerja yang mencakup penarikan bertahap pasukan Israel dari selatan Lebanon dan penempatan tentara Lebanon.
Qassem menuduh Presiden Lebanon, Joseph Aoun, bersikap “bias dan memecah belah” serta menyebut beberapa langkah negosiasi sebagai “malu” dan “penghinaan” bagi Lebanon. Pernyataan ini, berdasarkan liputan Middle East Eye dan laporan media lainnya, juga menyebutkan bahwa Hezbollah tidak keberatan dengan pertemuan publik antara kelompoknya dan pimpinan Suriah.
Sumber lokal menyebutkan ada kecaman publik terhadap pembicaraan langsung itu dari kelompok-kelompok yang menilai proses tersebut mengabaikan kepentingan nasional. Di sisi lain, pejabat pemerintahan menegaskan bahwa negosiasi bertujuan mengembalikan kedaulatan dan keamanan wilayah perbatasan.
Hingga laporan ini ditulis, ketegangan politik antara Hezbollah dan pemerintahan sipil Lebanon masih tinggi. Beberapa pihak menilai bahwa keberlanjutan proses politik bergantung pada kemampuan semua aktor untuk menerima hasil negosiasi dan menahan diri dari eskalasi lebih lanjut.
Beberapa pernyataan yang beredar, termasuk klaim tentang dokumen atau memorandum antara pihak-pihak regional sebagai satu-satunya jalan bagi penarikan Israel, belum dapat diverifikasi secara independen. Tim redaksi masih memverifikasi rincian lebih lanjut dan akan memperbarui laporan jika informasi tambahan tersedia.
Photo by: , Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel