Palestine Weekly: Israel Percepat Pengambilalihan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Berdasarkan laporan dari beberapa media internasional, termasuk Haaretz dan NBC, tindakan Israel di Gaza dan Tepi Barat dilaporkan mengalami eskalasi yang mencakup perubahan tata guna lahan dan pendirian pemukiman.
Menurut data yang dipublikasikan Haaretz, perubahan permanen sudah mulai dilakukan di area Masjid Ibrahimi di Hebron seiring kemajuan rencana pemukiman di Gaza. Perubahan ini dianggap sebagai bagian dari upaya untuk mengkodifikasi kontrol wilayah yang selama ini bersifat bertahap.
Sumber lokal menyebutkan bahwa di Gaza utara, operasional darat militer Israel meluas — termasuk pergerakan tank di sekitar Beit Lahia — yang memaksa puluhan keluarga mengungsi dari tempat penampungan sementara mereka. Langkah-langkah tersebut terus mendorong perpindahan warga Palestina ke wilayah yang kian menyempit.
Menurut data lain yang dilaporkan Haaretz, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menyatakan bahwa Israel siap segera mendirikan tiga pemukiman Yahudi di Gaza utara, dengan catatan menunggu persetujuan pemerintah. Hingga laporan ini ditulis, pengumuman tersebut belum diresmikan oleh seluruh birokrasi pemerintahan dan belum dapat diverifikasi secara independen.
NBC melaporkan insiden penembakan yang menewaskan seorang anak berusia 3 tahun, Rayan Abu al-Ajeen, di Gaza. Rayan dilaporkan terkena tembakan di kepala saat berjalan bersama ayahnya dekat garis yang sering berubah-ubah dikenal sebagai “yellow line” antara zona yang dikendalikan Israel dan Palestina; Rayan gugur dalam insiden tersebut. Laporan NBC menyebutkan bahwa klaim adanya “fire warning” oleh tentara Israel saling bertentangan dengan kecaman dari kelompok hak asasi yang mengutip pola korban sipil.
Sebuah laporan PBB yang dikutip oleh media menyatakan adanya tuduhan bahwa strategi militer Israel mengakibatkan meningkatnya penargetan terhadap anak-anak Palestina; pemerintah Israel menolak tuduhan tersebut sebagai “fitnah”. Klaim-klaim ini, termasuk dugaan strategi terencana, belum dapat diverifikasi secara independen oleh tim redaksi.
Selain itu, Haaretz juga melaporkan ketegangan di selatan Suriah, di mana warga setempat menggambarkan kondisi “no-man’s-land” akibat intensifikasi kehadiran militer Israel—penyergapan desa, penempatan pos pengamatan di punggungan strategis, dan pemeriksaan jalan. Sumber lokal menyebutkan bahwa penduduk hidup dalam ketidakpastian dan pembatasan mobilitas yang berat.
Tim redaksi masih memverifikasi rincian lapangan dan klaim-klaim tertentu yang beredar. Hingga laporan ini ditulis, situasi di Gaza, Tepi Barat, dan wilayah perbatasan terkait terus berkembang dan memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari sumber independen.
Photo by: Sameeh Karram, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel