Mantan Pejabat Biden Meragukan Efektivitas ‘Pilot Zones’ di Lebanon
Berdasarkan laporan dari media internasional dan pernyataan sejumlah pihak, rencana pembentukan “pilot zones” di selatan Lebanon yang dimediasi AS mendapat kecaman dari mantan pejabat pemerintahan Biden, Gavito, yang menyatakan skema itu sulit berjalan efektif.
Menurut data yang dikumpulkan dari beberapa sumber, pemerintah Lebanon telah mulai menempatkan Tentara Lebanon (LAF) di zona percontohan, dimulai dari desa Zawtar al-Gharbiyeh, sebagai bagian dari kerangka trilateral untuk memfasilitasi penarikan pasukan Israel dan mendorong kedaulatan negara Lebanon. Namun Gavito menilai, tanpa kemampuan nyata LAF untuk mencegah kembalinya infrastruktur dan operasi militan, zona-zona ini berisiko menjadi “fig leaf” yang menutupi aktivitas bersenjata yang berlanjut.
Sumber lokal menyebutkan pasukan Israel menembakkan tembakan peringatan terhadap tentara Lebanon yang dituduh melanggar zona keamanan 10 km, sementara Hizbullah secara resmi menolak persyaratan pelucutan senjata dalam kesepakatan tersebut. Belum dapat diverifikasi secara independen apakah insiden-insiden ini menandai eskalasi sistemik atau sekadar gesekan taktis di lapangan.
Menurut data, sejak konflik meningkat pada Maret, lebih dari 4.300 orang telah tewas di Lebanon. Hingga laporan ini ditulis, rincian tentang identitas korban dan distribusi di antara kelompok-kelompok yang terlibat masih belum jelas; tim redaksi masih memverifikasi keterangan pihak berwenang dan laporan lapangan.
Dalam pertemuan tingkat tinggi, Presiden Lebanon Joseph Aoun dilaporkan menemui Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih untuk merinci dukungan militer dan politik bagi penempatan LAF serta upaya menegakkan monopoli penggunaan kekuatan oleh negara. Belum dapat diverifikasi secara independen klaim tentang komitmen jangka panjang Israel untuk menarik seluruh pasukannya—analis memperingatkan Israel kemungkinan akan terus mendorong batas-batas keamanan di perbatasan.
Gavito menekankan bahwa tujuan-tujuan antara Lebanon, AS, dan Israel berbeda: Lebanon berharap penempatan LAF memaksa penarikan Israel; AS berharap memulihkan kedaulatan Lebanon dengan mencegah Hizbullah beroperasi; sementara Israel tampak skeptis dan ingin memastikan keamanan tanpa kehadiran permanen IDF. Tim redaksi masih memverifikasi pernyataan resmi dari semua pihak terkait efektivitas mekanisme pengawasan dan jaminan keamanan di zona-zona tersebut.
Sumber lokal dan laporan media menunjukkan bahwa keberhasilan skema ini bergantung pada kemampuan internasional dan regional untuk memastikan LAF benar-benar mengendalikan wilayah—tanpa itu, kata pengamat, pilot zones berisiko memperpanjang ketidakstabilan di perbatasan selatan Lebanon.
Tim redaksi masih memverifikasi rincian lapangan dan pernyataan para pejabat yang terlibat. Belum dapat diverifikasi secara independen seluruh klaim yang dibuat oleh masing-masing pihak.
Photo by: , Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel