Israel Perluas ‘Zona Kuning’, Ribuan Warga Gaza Terpaksa Mengungsi Lagi — Media Israel Delegasi Hamas Tiba di Kairo untuk Lanjutkan Negosiasi Fase Kedua Gencatan Senjata 99 Orang Gugur Ditemukan di Bawah Reruntuhan Rumah di Al-Sabra, Gaza Gelombang Panas Ancaman Baru, Kebakaran Hutan di Prancis dan Spanyol Terancam Memburuk Meshrep: Warisan Budaya Uygur yang Menghubungkan Musik, Seni, dan Nilai-Nilai Komunitas Kepala PBB Tiba di Siprus, Tegaskan Dukungan untuk Upaya Perdamaian Zelenskyy Akan Bertemu Trump Saat Konflik Iran dan Ukraina Berpotongan Dukungan Internasional Menguat untuk Venezuela Setelah Gempa Mematikan Menteri Luar Negeri Yaman: Siap Eskalasi jika Houthi Terus Tekan Siria dan Jepang Bahas Penguatan Hubungan Ekonomi Israel Perluas ‘Zona Kuning’, Ribuan Warga Gaza Terpaksa Mengungsi Lagi — Media Israel Delegasi Hamas Tiba di Kairo untuk Lanjutkan Negosiasi Fase Kedua Gencatan Senjata 99 Orang Gugur Ditemukan di Bawah Reruntuhan Rumah di Al-Sabra, Gaza Gelombang Panas Ancaman Baru, Kebakaran Hutan di Prancis dan Spanyol Terancam Memburuk Meshrep: Warisan Budaya Uygur yang Menghubungkan Musik, Seni, dan Nilai-Nilai Komunitas Kepala PBB Tiba di Siprus, Tegaskan Dukungan untuk Upaya Perdamaian Zelenskyy Akan Bertemu Trump Saat Konflik Iran dan Ukraina Berpotongan Dukungan Internasional Menguat untuk Venezuela Setelah Gempa Mematikan Menteri Luar Negeri Yaman: Siap Eskalasi jika Houthi Terus Tekan Siria dan Jepang Bahas Penguatan Hubungan Ekonomi

Khayam Nuzul di Gaza Tantang Perang untuk Selamatkan Masa Depan Pendidikan Anak

Admin June 14, 2026 at 05:07
Khayam Nuzul di Gaza Tantang Perang untuk Selamatkan Masa Depan Pendidikan Anak

Berdasarkan laporan dari relawan dan guru yang bekerja di lapangan, khayam-nuzul atau tenda-tenda pengungsian di Jalur Gaza telah berubah fungsi menjadi ruang kelas darurat bagi anak-anak yang kehilangan akses pendidikan akibat konflik berkepanjangan. Menjadi guru di tengah tenda, para pengajar dan relawan berupaya mengembalikan sebisa mungkin pelajaran yang hilang dari kurikulum formal.

Menurut data yang dihimpun oleh organisasi kemanusiaan lokal, pelajaran yang diselenggarakan di dalam tenda mencakup membaca, menulis, dan matematika dasar serta kegiatan pemulihan psikososial untuk mengatasi trauma. Sumber lokal menyebutkan bahwa program-program ini digelar di sejumlah titik pengungsian menggunakan papan tulis sederhana, buku bekas, dan materi yang dibuat sendiri oleh relawan.

Para guru mengatakan mereka bekerja tanpa fasilitas memadai dan di bawah ancaman serangan yang terus berlanjut. “Kami tidak bisa menunggu perang berhenti untuk kembali mengajar. Anak-anak kehilangan masa belajar mereka setiap hari,” kata seorang guru sukarela yang meminta identitasnya disamarkan. Kegiatan belajar seringkali terhenti ketika ada suara sirene atau guncangan akibat serangan, namun upaya untuk kembali membuka kelas dilakukan sedini mungkin.

Hingga laporan ini ditulis, inisiatif pengajaran di tenda-tenda pengungsian terus berlanjut meski menghadapi keterbatasan logistik dan keamanan. Relawan menyampaikan bahwa selain pembelajaran akademis, mereka juga menekankan permainan edukatif dan dukungan emosional untuk membantu anak-anak mengelola stres dan rasa takut.

Belum dapat diverifikasi secara independen jumlah anak yang terlayani atau cakupan sebenarnya dari program-program tersebut, karena akses jurnalistik ke beberapa lokasi sangat terbatas dan situasi keamanan fluktuatif. Tim redaksi masih memverifikasi klaim-klaim khusus terkait jumlah relawan, materi yang dibagikan, dan titik-titik pengungsian yang disebutkan oleh sumber-sumber lokal.

Para pengamat pendidikan kemanusiaan mengatakan bahwa upaya informal semacam ini penting untuk mencegah “generasi yang putus sekolah” akibat konflik, tetapi menekankan perlunya dukungan materi dan pendanaan yang lebih besar agar program bisa berkelanjutan. Sementara itu, komunitas internasional dan organisasi bantuan diminta untuk memperhatikan kebutuhan pendidikan darurat sebagai bagian dari respons kemanusiaan yang lebih luas.

Sumber lokal menyebutkan bahwa banyak orang tua yang berharap anak-anak mereka dapat kembali ke sekolah formal secepat mungkin, namun kondisi infrastruktur dan keamanan masih menjadi penghalang utama. Tim redaksi masih memverifikasi detail lebih lanjut dan kondisi di lapangan akan terus dipantau untuk laporan berikutnya.

Photo by: Hosny salah, Pexel

Ruang Iklan

Tersedia untuk sponsorship

Bagikan Artikel

Berlangganan

Dapatkan Berita Terbaru

Daftarkan email atau nomor WhatsApp Anda dan kami akan mengirimkan berita-berita pilihan langsung ke Anda.

Kami tidak akan mengirimkan spam. Berhenti berlangganan kapan saja.