Lebih dari 6.500 Serangan Pemukim di Tepi Barat Sejak Awal 2026, 25 Gugur Iran Menolak Pembicaraan AS saat Selat Hormuz Tetap Ditutup Kepala PBB Temui Perwakilan Masyarakat Sipil Suriah di Damaskus Pemimpin Oposisi Israel: Prajurit Bayar Harga Kebijakan “Ceroboh” Netanyahu Iran: Pertukaran Pesan dengan AS Berlanjut, Namun Syarat untuk Berunding Tidak Ada Tentara Lebanon Kecam ‘Serangan dan Pelanggaran’ Israel yang Terus Berlangsung Protes Meletus di Tripoli atas Pemadaman Listrik, Jalan dan Kementerian Ditutup Haft Mewa: Tradisi Nowruz Afghanistan yang Kaya Makna dan Cita Rasa Tentara Sudan Klaim Kuasai Jalan Raya Strategis Penghubung Khartoum dan el-Obeid DR Kongo: Operasi Perenco Picu Ancaman Pencemaran Berat bagi Warga Muanda Lebih dari 6.500 Serangan Pemukim di Tepi Barat Sejak Awal 2026, 25 Gugur Iran Menolak Pembicaraan AS saat Selat Hormuz Tetap Ditutup Kepala PBB Temui Perwakilan Masyarakat Sipil Suriah di Damaskus Pemimpin Oposisi Israel: Prajurit Bayar Harga Kebijakan “Ceroboh” Netanyahu Iran: Pertukaran Pesan dengan AS Berlanjut, Namun Syarat untuk Berunding Tidak Ada Tentara Lebanon Kecam ‘Serangan dan Pelanggaran’ Israel yang Terus Berlangsung Protes Meletus di Tripoli atas Pemadaman Listrik, Jalan dan Kementerian Ditutup Haft Mewa: Tradisi Nowruz Afghanistan yang Kaya Makna dan Cita Rasa Tentara Sudan Klaim Kuasai Jalan Raya Strategis Penghubung Khartoum dan el-Obeid DR Kongo: Operasi Perenco Picu Ancaman Pencemaran Berat bagi Warga Muanda

Khalil al-Hayya: Poin Penting dari Pidato Pertama sebagai Pemimpin Hamas

Admin July 23, 2026 at 02:05
Khalil al-Hayya: Poin Penting dari Pidato Pertama sebagai Pemimpin Hamas

Berdasarkan laporan, Khalil al-Hayya dalam pidato pertamanya sebagai pemimpin Hamas menyatakan komitmen kelompok untuk membantu warga Gaza dan berupaya mencapai negara Palestina yang bersatu. Menurut data, al-Hayya juga menegaskan rencana peralihan menuju pemerintahan teknokratis, meskipun rincian waktunya belum jelas. Sumber lokal menyebutkan bahwa Hamas secara sistematis menempatkan loyalis dalam struktur klan dan komite lingkungan—termasuk pengangkatan muktars—serta mengendalikan bantuan kemanusiaan untuk membangun ketergantungan dan jaringan pengawasan di kamp pengungsian. Menurut data, strategi ini memungkinkan kelompok tersebut memantau populasi dan menekan perbedaan pendapat, sehingga mempertahankan kekuasaan de facto meskipun secara publik mengklaim akan melepas kontrol administratif formal. Belum dapat diverifikasi secara independen klaim mengenai pembubaran kontrol formal Hamas dan motif di balik penempatan loyalis; tim redaksi masih memverifikasi laporan-laporan tersebut. Hingga laporan ini ditulis, dampak kebijakan yang diungkapkan al-Hayya terhadap distribusi bantuan, tata kelola lokal, dan kebebasan sipil di Gaza belum dapat dipastikan, sehingga pengamat menyerukan pemantauan lebih lanjut.

Photo by: Monirul Islam, Pexel

Ruang Iklan

Tersedia untuk sponsorship

Bagikan Artikel

Berlangganan

Dapatkan Berita Terbaru

Daftarkan email atau nomor WhatsApp Anda dan kami akan mengirimkan berita-berita pilihan langsung ke Anda.

Kami tidak akan mengirimkan spam. Berhenti berlangganan kapan saja.