Irak Berjanji kepada Tetangga untuk Mencegah Serangan yang Diluncurkan dari Wilayahnya
Berdasarkan laporan Al Jazeera Net, pemerintah Irak menyatakan akan mencegah penggunaan tanahnya sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan terhadap negara-negara tetangga, upaya yang dimaksudkan untuk menghindari dampak eskalasi regional.
Menurut data dari sumber internasional dan lokal, pernyataan itu muncul setelah serangkaian serangan udara balasan oleh Amerika Serikat dan Arab Saudi yang menargetkan milisi yang didukung Iran di Irak. Serangan udara tersebut, yang menargetkan logistik dan depot senjata, dilaporkan menewaskan puluhan anggota kelompok-kelompok bersenjata; menurut data, sekitar 20 anggota Pasukan Mobilisasi Populer (Hashd al-Shaabi) gugur.
Sumber lokal menyebutkan bahwa beberapa faksi Irak mengancam akan menargetkan pasukan AS dan Saudi jika pemerintah tidak mengambil sikap tegas terhadap serangan-serangan yang dilancarkan dari dalam negeri, dengan batas waktu yang disebut-sebut sekitar pertengahan Agustus. Pernyataan ancaman ini menambah tekanan terhadap Baghdad untuk menegaskan kendali atas kelompok-kelompok bersenjata yang kuat secara militer dan bersifat semi-otoriter.
Hingga laporan ini ditulis, ketegangan antara Washington dan Teheran terus memanas dan Irak berusaha menyeimbangkan tekanan dari kedua belah pihak sambil mempertahankan kedaulatannya. Belum dapat diverifikasi secara independen semua klaim tentang tujuan dan dampak serangan udara maupun ancaman balasan dari faksi-faksi Irak.
Tim redaksi masih memverifikasi rincian lebih lanjut terkait jumlah korban, sasaran serangan, dan tanggapan resmi dari pemerintah Irak serta pernyataan faksi-faksi bersenjata. Pemerintah Baghdad menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan negara-negara tetangga demi mencegah wilayah Irak digunakan sebagai basis agresi, namun pelaksanaannya menghadapi hambatan signifikan di lapangan.
Photo by: Ivan Hassib, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel