Rute Minyak Terakhir Arab Saudi Diintai Tekanan Houthi
Berdasarkan laporan, kelompok Houthi menyatakan telah menembakkan rudal balistik ke kapal tanker minyak Saudi NCC Wafaa di lepas pantai Yanbu, di Laut Merah bagian utara. Sumber lokal menyebutkan serangan ini merupakan insiden paling utara sejak blokade yang diumumkan kelompok itu dimulai pada 22 Juli.
Menurut data, hingga kini Houthi mengklaim telah menyerang delapan kapal tanker sejak deklarasi blokade, setidaknya lima di antaranya diklaim berbendera Saudi dan satu berbendera India yang dilaporkan karam di dekat Bab al-Mandab pada 4 Agustus. Belum dapat diverifikasi secara independen jumlah klaim tersebut; hanya empat insiden yang dikonfirmasi oleh United Kingdom Maritime Trade Operations Centre (UKMTO).
Hingga laporan ini ditulis, otoritas Saudi belum mengonfirmasi adanya serangan terhadap kapal mereka. Tim redaksi masih memverifikasi klaim-klaim yang dikeluarkan oleh pihak Houthi dan data pihak ketiga.
Analis Yaman Ibrahim Jalal menilai langkah Houthi sebagai upaya untuk mencegah pengalihan pengiriman lewat Terusan Suez, setelah penutupan Selat Hormuz lebih awal tahun ini memaksa Arab Saudi mengandalkan rute alternatif melalui Bab al-Mandab dan Yanbu. Matthew Wright dari perusahaan pelacakan kapal Kpler mengatakan kondisi saat ini merupakan periode terburuk bagi perdagangan minyak sejak krisis dimulai.
Salah Ali Salah, peneliti keamanan di Sanaa Centre, menyatakan bahwa Houthi masih berada pada lintasan eskalasi dan belum menurunkan seluruh kemampuan maritim mereka terhadap target-target Saudi. Ryan Bohl, analis MENA di RANE, menilai kemungkinan penutupan total lalu lintas di Laut Merah bagian utara tidak besar, namun ancaman terhadap pelabuhan Mesir dan Terusan Suez dapat meningkatkan tekanan ekonomi pada Riyadh.
Menurut data, sekitar 66 persen lalu lintas melalui Bab al-Mandab adalah ekspor minyak Saudi, sementara Laut Merah mengangkut 10 sampai 12 persen perdagangan global. Pengalihan rute mengitari Afrika dan melewati Terusan Suez menambah waktu perjalanan dan biaya; transits melalui Suez memaksa penggunaan kapal berkapasitas lebih kecil atau muatan VLCC yang dikurangi, sehingga menurunkan efisiensi pengiriman.
Rerouting juga menimbulkan biaya tambahan, termasuk bahan bakar dan biaya tol Suez yang signifikan, serta kebutuhan untuk memanfaatkan jalur pipa seperti Sumed untuk offloading dan pemulangan muatan. Salah satu konsekuensinya adalah pengurangan volume efektif yang dapat diekspor per perjalanan.
Sumber lokal menyebutkan beberapa kapal Saudi memilih mematikan transponder untuk menyeberang perairan tersebut, sementara kapal lain mengambil rute jauh mengelilingi Afrika. Aramco, meski menjadi target serangan pada Juli, menurut laporan perusahaan belum merasakan dampak operasional atau finansial yang material; perusahaan justru melaporkan kenaikan laba kuartal kedua.
Belum dapat diverifikasi secara independen apakah serangan akan meluas ke kapal non-tanker atau infrastruktur pelabuhan yang lebih utara, termasuk Terusan Suez. Jika eskalasi berlanjut, para analis memprediksi biaya logistik dan risiko perang akan meningkat bagi perusahaan pelayaran dan eksportir Saudi.
Tim redaksi masih memverifikasi rincian teknis dan klaim kerusakan dari kedua belah pihak. Hingga saat ini, tidak ada laporan korban jiwa yang dapat dikonfirmasi terkait serangkaian serangan laut ini.
Photo by: Oleksiy Yeshtokyn,🌻🇺🇦🌻, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel