Dari Murid Menjadi Guru: Perjalanan Sudan di معهد النور للمكفوفين Khartoum
Berdasarkan laporan, معهد النور للمكفوفين di Khartoum kembali membuka pintunya setelah penutupan panjang yang dipicu oleh konflik bersenjata, menjelma menjadi simbol harapan bagi penyandang disabilitas dan keluarga mereka.
Menurut data yang disampaikan oleh sumber lokal, institusi tersebut sempat berhenti beroperasi selama berbulan-bulan karena kondisi keamanan dan kerusakan fasilitas. Sumber lokal menyebutkan bahwa pembukaan kembali ini tidak hanya menandai kembalinya layanan pendidikan dasar bagi tunanetra, tetapi juga membuka peluang bagi sejumlah mantan siswa untuk mengambil peran baru sebagai pendidik.
Salah satu kisah yang menonjol adalah perjalanan seorang mantan murid yang, setelah menamatkan pendidikannya di institut itu, kembali sebagai guru pengganti untuk anak-anak tunanetra. Sumber lokal menyebutkan bahwa ia memanfaatkan keterampilan yang diperolehnya — termasuk braille, navigasi mandiri, dan teknologi bantu — untuk mengajar generasi baru. “Saya ingin memberi kembali apa yang pernah diberikan kepada saya,” kata orang tersebut kepada wartawan lokal, menurut sumber.
Perubahan peran dari murid menjadi guru dinilai penting oleh pengurus institusi karena menguatkan rasa komunitas dan menunjukkan kemungkinan pemulihan sosial pasca-konflik. Menurut data lembaga, keberadaan tenaga pengajar yang pernah mengalami kondisi serupa meningkatkan kepercayaan dan motivasi siswa baru.
Hingga laporan ini ditulis, beberapa program rehabilitasi dan kelas dasar telah dimulai kembali, meskipun kapasitas operasional belum pulih sepenuhnya. Tim redaksi masih memverifikasi rincian jumlah siswa yang kembali dan sumber daya yang tersedia di institut.
Belum dapat diverifikasi secara independen sejauh mana dukungan pemerintah atau organisasi internasional terhadap rehabilitasi penuh institusi tersebut. Sementara itu, komunitas lokal dan alumni tampil sebagai penggerak awal, membantu perbaikan fasilitas dan menyediakan bahan ajar.
Sumber lokal menyebutkan bahwa kisah mantan murid yang kembali menjadi guru menjadi inspirasi di tengah kondisi sulit, memberi harapan bahwa pendidikan dan inklusi bagi penyandang disabilitas dapat bangkit kembali meskipun perang meninggalkan jejak panjang. Tim redaksi masih memverifikasi detail lebih lanjut dan akan mengabarkan perkembangan setelah konfirmasi independen tersedia.
Photo by: Faruk Tokluoğlu, Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel