Bangladesh: Longsor Mematikan bagi Pengungsi Rohingya
Berdasarkan laporan Human Rights Watch, korban jiwa dan pengungsian massal terjadi akibat longsor di kamp pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh, pada Juli 2026.
Menurut data Human Rights Watch, setidaknya 17 pengungsi Rohingya gugur dan lebih dari 3.000 orang mengungsi setelah gelombang longsor selama musim monsun. Menurut data Rohingya Coordination Platform, antara 4 dan 9 Juli terjadi 286 insiden terkait cuaca di kamp-kamp yang memengaruhi 26.119 pengungsi, termasuk 95 longsor yang menggusur 4.307 orang, merusak 2.809 tempat tinggal secara parsial dan menghancurkan 13 tempat tinggal.
Sumber lokal menyebutkan bahwa banyak keluarga tinggal di tenda bambu dan terpal di lereng yang gundul sehingga sangat rentan terhadap hujan lebat. Seorang insinyur sanitasi mengatakan desain permukiman cacat sejak awal karena bukit dipotong tanpa sistem drainase terencana, dan pemotongan dana membuat pekerjaan pencegahan longsor berkelanjutan tidak dapat dilanjutkan.
Sumber lokal menyebutkan pula bahwa pengungsi baru paling berisiko karena tidak mendapat alokasi tempat tinggal formal dan terpaksa menyewa atau membeli ruang yang tidak aman. Seorang pria Rohingya yang tiba pada Agustus 2024 mengaku dua putrinya dan dua cucunya gugur ketika lereng tempat tinggal daruratnya runtuh pada 6 Juli.
Belum dapat diverifikasi secara independen sejumlah rincian lapangan yang beredar di media sosial terkait lokasi dan jumlah korban tambahan. Tim redaksi masih memverifikasi beberapa perincian, termasuk laporan lokal tentang pemindahan massal yang belum terkoordinasi.
Berdasarkan laporan, masalah struktural yang lebih luas memperburuk risiko: lebih dari satu juta pengungsi Rohingya dipadatkan dalam kawasan seluas 24 kilometer persegi, lahan yang semakin gundul, serta keterbatasan ruang untuk relokasi darurat. Pemerintah Bangladesh sejauh ini belum memutuskan permintaan UNHCR untuk tambahan lahan, dan ada pembatasan terhadap pembangunan permanen di kamp.
Menurut data Human Rights Watch, pemotongan dana kemanusiaan sejak 2025 menghentikan rencana pembangunan penampungan semi-permanen dan program rekonstruksi 50.000 shelter yang sempat disetujui pemerintah. Hingga laporan ini ditulis, Shelter and Camp Coordination and Camp Management appeal baru 42 persen terdanai dengan kebutuhan sekitar US$73,9 juta yang masih kurang, dan rencana manajemen risiko bencana memiliki kekurangan pendanaan sekitar US$23,2 juta.
Human Rights Watch menegaskan bahwa setiap musim monsun menjadi semakin mematikan karena kebijakan dan kekurangan pendanaan yang menempatkan pengungsi dalam situasi berisiko. Tim redaksi masih memverifikasi perkembangan respons pemerintah dan donatur terhadap seruan untuk pendanaan mendesak guna stabilisasi lereng, drainase, dan lokasi relokasi yang aman.
Photo by: Rohingya Creative Production (RCP), Pexel
Ruang Iklan
Tersedia untuk sponsorship
Bagikan Artikel