Israel Perluas ‘Zona Kuning’, Ribuan Warga Gaza Terpaksa Mengungsi Lagi — Media Israel Delegasi Hamas Tiba di Kairo untuk Lanjutkan Negosiasi Fase Kedua Gencatan Senjata 99 Orang Gugur Ditemukan di Bawah Reruntuhan Rumah di Al-Sabra, Gaza Gelombang Panas Ancaman Baru, Kebakaran Hutan di Prancis dan Spanyol Terancam Memburuk Meshrep: Warisan Budaya Uygur yang Menghubungkan Musik, Seni, dan Nilai-Nilai Komunitas Kepala PBB Tiba di Siprus, Tegaskan Dukungan untuk Upaya Perdamaian Zelenskyy Akan Bertemu Trump Saat Konflik Iran dan Ukraina Berpotongan Dukungan Internasional Menguat untuk Venezuela Setelah Gempa Mematikan Menteri Luar Negeri Yaman: Siap Eskalasi jika Houthi Terus Tekan Siria dan Jepang Bahas Penguatan Hubungan Ekonomi Israel Perluas ‘Zona Kuning’, Ribuan Warga Gaza Terpaksa Mengungsi Lagi — Media Israel Delegasi Hamas Tiba di Kairo untuk Lanjutkan Negosiasi Fase Kedua Gencatan Senjata 99 Orang Gugur Ditemukan di Bawah Reruntuhan Rumah di Al-Sabra, Gaza Gelombang Panas Ancaman Baru, Kebakaran Hutan di Prancis dan Spanyol Terancam Memburuk Meshrep: Warisan Budaya Uygur yang Menghubungkan Musik, Seni, dan Nilai-Nilai Komunitas Kepala PBB Tiba di Siprus, Tegaskan Dukungan untuk Upaya Perdamaian Zelenskyy Akan Bertemu Trump Saat Konflik Iran dan Ukraina Berpotongan Dukungan Internasional Menguat untuk Venezuela Setelah Gempa Mematikan Menteri Luar Negeri Yaman: Siap Eskalasi jika Houthi Terus Tekan Siria dan Jepang Bahas Penguatan Hubungan Ekonomi

Bahasa Rohingya dalam Doa dan Qasidah: Warisan Lisan yang Menjadi Penanda Identitas

Admin June 28, 2026 at 12:32
Bahasa Rohingya dalam Doa dan Qasidah: Warisan Lisan yang Menjadi Penanda Identitas

Bahasa Rohingya dalam Doa dan Qasidah: Warisan Lisan yang Menjadi Penanda Identitas

Pendahuluan

Bahasa adalah jantung dari setiap budaya. Bagi komunitas Muslim Rohingya, bahasa mereka bukan sekadar alat komunikasi sehari-hari, melainkan cerminan identitas spiritual dan keagamaan yang mendalam. Penggunaan bahasa Rohingya dalam doa, qasidah, dan syair keagamaan merepresentasikan tradisi lisan berirama yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad, menjadikannya penanda identitas yang tak ternilai bagi umat Muslim Rohingya di seluruh dunia.

Dalam era modern dimana bahasa-bahasa minoritas menghadapi ancaman kepunahan, pemahaman tentang peran bahasa Rohingya dalam praktik keagamaan menjadi semakin penting. Artikel ini mengeksplorasi kedalaman tradisi tersebut dan upaya komunitas Rohingya dalam melestarikannya.

Sejarah dan Perkembangan Bahasa Rohingya

Awal Mula dan Aksara Tradisional

Bahasa Rohingya memiliki sejarah panjang yang kaya. Lebih dari 350 tahun lalu, komunitas Rohingya telah menggunakan aksara Arab dalam menulis dan mendokumentasikan karya-karya keagamaan mereka. Aksara Arab ini menjadi fondasi dalam penulisan doa-doa, qasidah, dan syair-syair keagamaan yang dilestarikan melalui tradisi lisan.

Namun, perkembangan sejarah telah mengubah lanskap linguistik Rohingya. Pada era penjajahan Inggris, penggunaan aksara Arab secara bertahap menghilang, dan pengetahuan tentang sistem penulisan tradisional ini hampir sepenuhnya terlupakan oleh generasi-generasi kemudian.

Aksara Modern: Dari Hanifi hingga Rohingyalish

Upaya untuk merevitalisasi bahasa Rohingya dimulai pada dekade 1970-an hingga 1980-an ketika Mohammad Hanif mengembangkan aksara Hanifi—sebuah sistem gabungan yang menggabungkan elemen-elemen dari aksara Arab, Burmah, dan Latin. Aksara Hanifi ini dirancang khusus untuk merepresentasikan fonema-fonema unik dalam bahasa Rohingya.

Meskipun inovatif, aksara Hanifi menghadapi tantangan praktis dalam era digital karena masalah kompatibilitas komputer. Atas dasar ini, sistem transliterasi baru bernama Rohingyalish dikembangkan oleh E.M. Siddique. Sistem ini menggunakan 26 huruf Latin standar ditambah dengan huruf-huruf beraksara (ç, ñ) untuk merepresentasikan suara-suara retroflek dan nasal yang khas dalam bahasa Rohingya.

Rohingyalish memiliki keunggulan praktis: mudah diketik menggunakan papan ketik standar dan secara fonetis sangat akurat dalam menggambarkan pengucapan bahasa Rohingya. Hal ini menjadikannya lebih accessible bagi komunitas modern yang bergantung pada teknologi digital.

Karakteristik Linguistik Bahasa Rohingya

Struktur Fonologis

Bahasa Rohingya memiliki sistem fonologis yang kompleks dan unik. Bahasa ini memiliki sekitar 25 fonem konsonan asli, ditambah dengan suara-suara pinjaman dari bahasa-bahasa tetangga seperti Bengali, Arab, dan Inggris. Keragaman fonologis ini mencerminkan sejarah kontak budaya yang kaya dari komunitas Rohingya.

Selain itu, bahasa Rohingya membedakan 12 kategori tense (waktu), yang menunjukkan sistem verbal yang sophisticated untuk mengekspresikan berbagai nuansa temporal dalam narasi keagamaan dan doa-doa.

Keunikan dalam Ekspresi Spiritual

Kompleksitas linguistik bahasa Rohingya membuatnya sangat cocok untuk ekspresi spiritual yang mendalam. Dalam konteks doa dan qasidah keagamaan, struktur bahasa ini memungkinkan penutur untuk mengekspresikan makna-makna teologis dengan presisi yang tinggi dan keindahan puitis yang luar biasa.

Peran Bahasa Rohingya dalam Doa dan Ibadah

Doa dalam Bahasa Ibu

Bagi Muslim Rohingya, berdoa dalam bahasa Rohingya memiliki makna yang sangat personal dan spiritual. Meskipun doa formal dalam Islam menggunakan bahasa Arab, penggunaan bahasa Rohingya dalam doa-doa suplikatif (doa pribadi) menciptakan koneksi yang lebih intim dengan Sang Pencipta.

Doa dalam bahasa ibu memungkinkan komunitas Rohingya untuk mengekspresikan kebutuhan, harapan, dan rasa syukur mereka dengan cara yang paling autentik dan emosional. Hal ini mencerminkan prinsip Islam yang mengajarkan bahwa doa dapat dilakukan dalam berbagai bahasa, asalkan berasal dari hati yang tulus.

Qasidah: Puisi Keagamaan Bernyanyi

Qasidah merupakan bentuk puisi keagamaan berbentuk panjang yang sering dinyanyikan dalam komunitas Muslim. Dalam tradisi Rohingya, qasidah tidak hanya berfungsi sebagai bentuk ibadah, tetapi juga sebagai medium transmisi nilai-nilai keagamaan dan historis kepada generasi muda.

Pada qasidah Rohingya, bahasa ibu dipadukan dengan ritme dan melodi yang kaya, menciptakan pengalaman spiritual yang mendalam. Bait-bait qasidah mengisahkan tentang kehidupan Nabi Muhammad, nilai-nilai islami, dan pengalaman hidup komunitas Rohingya itu sendiri.

Syair Keagamaan: Ekspresi Budaya yang Hidup

Syair keagamaan dalam bahasa Rohingya adalah tradisi lisan yang menjadi penanda identitas paling kuat. Syair-syair ini tidak hanya berisi pesan-pesan teologis, tetapi juga menceritakan sejarah, perjuangan, dan identitas komunitas Rohingya.

Dalam konteks modern, terutama di kamp-kamp pengungsian dan diaspora Rohingya, syair-syair keagamaan ini menjadi sarana untuk menjaga memori kolektif, mewariskan nilai-nilai budaya, dan menegaskan identitas etnis dan agama di tengah tantangan yang mereka hadapi.

Tradisi Lisan Berirama: Transmisi Budaya Turun-Temurun

Mekanisme Pewarisan Budaya

Salah satu karakteristik paling menarik dari penggunaan bahasa Rohingya dalam praktik keagamaan adalah mekanisme pewarisannya yang bersifat lisan. Doa, qasidah, dan syair dihafalkan dan diajarkan secara verbal dari orang tua kepada anak, dari guru kepada murid, dari generasi ke generasi.

Trasmisi lisan ini memiliki keuntungan tersendiri: ritme, melodi, dan pola rima membuat konten lebih mudah diingat dan diperbaharui sesuai konteks zaman. Namun, mekanisme ini juga menghadapi risiko: tanpa dokumentasi tertulis yang memadai dan tanpa generasi yang berkomitmen untuk mempelajarinya, tradisi ini berisiko hilang.

Peran Pendidikan dalam Pemeliharaan Tradisi

Pendidikan memainkan peran krusial dalam pemeliharaan tradisi lisan Rohingya. Di berbagai tempat, termasuk di kamp pengungsian, relawan dan guru seperti Maulvi Mohammad Ismail bekerja keras mengajar anak-anak membaca dan menulis bahasa Rohingya. Dengan mengajar sekitar 30 murid berusia 5-15 tahun dalam kelas-kelas sederhana, upaya-upaya ini mencoba menjaga agar bahasa Rohingya tetap hidup di antara generasi muda.

Program-program literasi ini sangat penting mengingat banyak keluarga Rohingya hidup dalam kondisi ekstrem sebagai pengungsi atau pemulung, dengan akses pendidikan yang sangat terbatas.

Ancaman dan Tantangan Kelestarian Bahasa Rohingya

Penghapusan Budaya Sistematis

Sejarah kontemporer Rohingya dipenuhi dengan upaya-upaya sistematis untuk menghapus identitas budaya dan bahasa mereka. Dimulai pada tahun 1964 ketika rezim Myanmar mengucilkan bahasa Rohingya dari penyiaran publik, hingga Undang-Undang Kewarganegaraan 1982 yang menonaktifkan kewarganegaraan Rohingya, dan puncaknya adalah pembersihan etnis 2017 yang memicu eksodus massal.

Pembersihan etnis 2017 ini membawa konsekuensi linguistik yang devastatif: ratusan ribu Rohingya terpaksa meninggalkan Myanmar, dan ribuan lainnya kehilangan nyawa mereka. Diaspora yang tersebar di berbagai negara membuat transmisi tradisi lisan menjadi semakin sulit.

Tekanan Asimilasi di Negara Tuan Rumah

Rohingya yang hidup sebagai pengungsi di berbagai negara menghadapi tekanan asimilasi yang kuat. Di kamp-kamp pengungsian seperti di Bangladesh, India, dan negara-negara lain, generasi muda Rohingya dihadapkan dengan bahasa-bahasa lokal dan global yang mendominasi kehidupan sehari-hari mereka.

Orang tua yang berjuang untuk bertahan hidup seringkali tidak memiliki waktu atau sumber daya untuk mengajar anak-anak mereka bahasa Rohingya secara formal. Sementara itu, bahasa-bahasa mayoritas (Bengali, Hindi, Inggris) menjadi lebih praktis dan menguntungkan untuk dipelajari, menciptakan tendensi generasi muda untuk melupakan bahasa ibu mereka.

Keterbatasan Literasi dan Alat Linguistik

Meskipun aksara modern telah dikembangkan, tingkat literasi dalam bahasa Rohingya masih sangat rendah. Mayoritas komunitas Rohingya, terutama generasi tua, masih lebih familiar dengan aksara Arab daripada dengan aksara Hanifi atau Rohingyalish.

Selain itu, bahasa Rohingya masih membutuhkan lebih banyak penelitian linguistik formal, kamus komprehensif, dan materi pendidikan berkualitas tinggi. Kurangnya sumber-sumber ini menjadi hambatan signifikan dalam upaya revitalisasi bahasa.

Upaya Pelestarian dan Dokumentasi

Inisiatif Komunitas di Diaspora

Meskipun menghadapi tantangan berat, komunitas Rohingya di diaspora tidak pasif. Berbagai inisiatif telah diluncurkan untuk mendokumentasikan dan melestarikan bahasa serta budaya Rohingya.

Salah satu contoh penting adalah Art Garden Rohingya, sebuah platform yang mengumpulkan, menerbitkan, dan menyebarkan sastra, cerita rakyat, dan puisi Rohingya. Melalui platform digital ini, karya-karya keagamaan dan budaya Rohingya didokumentasikan dan dibuat accessible untuk audiens global.

Dokumentasi Sastra dan Cerita Rakyat

Upaya dokumentasi meliputi:

  • Transkripsi doa-doa tradisional ke dalam aksara modern
  • Rekaman audio dan video dari qasidah dan syair keagamaan yang dinyanyikan oleh praktisi tradisional
  • Publikasi antologi puisi dan cerita rakyat dalam bahasa Rohingya
  • Pengembangan database digital untuk menyimpan warisan budaya Rohingya

Inisiatif-inisiatif ini tidak hanya berfungsi sebagai preservasi budaya, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan dan testimoni. Melalui dokumentasi karya-karya budaya mereka, komunitas Rohingya menuntut pengakuan atas identitas mereka dan keadilan atas penderitaan yang mereka alami.

Peran Teknologi Digital

Teknologi digital telah menjadi sekutu penting dalam pelestarian bahasa Rohingya. Situs web, aplikasi mobile, dan platform media sosial memungkinkan komunitas Rohingya untuk:

  • Berbagi dan mendiskusikan karya-karya keagamaan
  • Mengajar bahasa Rohingya kepada generasi muda
  • Menghubungkan anggota komunitas yang tersebar di berbagai negara
  • Menjangkau audiens internasional dan meningkatkan kesadaran global tentang bahasa Rohingya

Organisasi seperti Rohingya Language Foundation dengan moto “Make All Rohingya Read & Write” menunjukkan komitmen komunitas untuk pendidikan literasi bahasa Rohingya.

Bahasa Rohingya sebagai Penanda Identitas

Identitas Religius dan Etnis

Penggunaan bahasa Rohingya dalam doa, qasidah, dan syair keagamaan bukan sekadar praktik budaya, tetapi merupakan pernyataan identitas yang mendalam. Untuk Muslim Rohingya, bahasa ini adalah tanda pengenal yang membedakan mereka dari komunitas Muslim lain di region.

Dalam konteks pluralistik Asia Tenggara, dimana banyak komunitas Muslim berbahasa Bengali, Burmese, Thai, atau Melayu, bahasa Rohingya berfungsi sebagai penanda identitas etnis yang kuat dan unik.

Ketahanan Budaya di Tengah Pengusiran

Pengalaman Rohingya sebagai pengungsi dan korban pembersihan etnis telah meningkatkan pentingnya bahasa sebagai simbol identitas. Ketika negara, hak sipil, dan properti mereka dirampas, bahasa dan budaya keagamaan mereka menjadi aset yang paling intangible namun paling berharga.

Bagi banyak Rohingya, berdoa dalam bahasa ibu atau menyanyikan qasidah dalam bahasa Rohingya adalah cara mereklaim identitas, mengungkap resiliensi, dan mempertahankan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Koneksi dengan Sejarah dan Tanah Air

Melalui bahasa Rohingya, komunitas ini mempertahankan koneksi dengan sejarah mereka, dengan tanah air mereka di Myanmar, dan dengan generasi-generasi pendahulu mereka. Bahasa ini membawa memori kolektif tentang kerajaan Arakan, budaya Rohingya yang kaya, dan kontribusi mereka terhadap peradaban regional.

Bagi generasi muda Rohingya yang tumbuh di kamp pengungsian atau di negara-negara asing, belajar bahasa Rohingya adalah cara untuk terhubung dengan warisan budaya mereka dan memahami akar identitas mereka.

Perspektif Masa Depan: Harapan dan Strategi

Pendidikan Formal dan Informal

Masa depan kelestarian bahasa Rohingya bergantung pada pengembangan sistem pendidikan yang komprehensif, baik formal maupun informal. Ini meliputi:

  • Kurikulum sekolah yang memasukkan pengajaran bahasa dan budaya Rohingya
  • Program pelatihan guru untuk melatih instruktur berkualitas
  • Kelas-kelas komunitas yang terbuka untuk anak-anak dan orang dewasa
  • Pendidikan orang tua untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya transmisi bahasa

Standarisasi Aksara dan Ortografi

Salah satu langkah penting adalah mencapai konsensus komunitas tentang aksara dan sistem ortografi yang paling sesuai. Meskipun Rohingyalish menawarkan keuntungan praktis, pempertimbangan terhadap aksara Arab tradisional juga tetap relevan mengingat signifikansi religiusnya.

Standarisasi akan memudahkan produksi materi pendidikan, publikasi, dan dokumentasi digital.

Kerjasama Internasional dan Dukungan Institusional

Melestarikan bahasa minoritas membutuhkan dukungan dari lembaga-lembaga internasional, universitas, dan organisasi kemanusiaan. UNESCO, UNHCR, dan organisasi-organisasi lokal dapat memainkan peran dalam:

  • Mendanai proyek dokumentasi dan penelitian
  • Menyediakan platform dan sumber daya
  • Meningkatkan profil dan kesadaran publik tentang bahasa Rohingya
  • Memfasilitasi pertukaran pengetahuan antar komunitas linguistik yang menghadapi tantangan serupa

Pemberdayaan Komunitas dan Kepemimpinan Lokal

Pada akhirnya, pelestarian bahasa Rohingya harus dipimpin oleh komunitas Rohingya sendiri. Pemberdayaan pemimpin lokal, seniman, dan pendidik adalah kunci keberlanjutan jangka panjang.

Inisiatif grassroots seperti kelas-kelas di kamp pengungsian dan platform digital komunitas harus didukung dan diperkuat sehingga mereka dapat berkembang dan mencapai lebih banyak orang.

Kesimpulan

Bahasa Rohingya, dalam penggunaannya dalam doa, qasidah, dan syair keagamaan, merepresentasikan lebih dari sekadar sistem komunikasi—ia adalah manifestasi hidup dari identitas spiritual, budaya, dan etnis komunitas Muslim Rohingya. Tradisi lisan berirama yang diwariskan turun-temurun ini telah bertahan melalui berabad-abad sejarah dan terus berkembang meskipun menghadapi ancaman serius dalam konteks modern.

Penghapusan budaya sistematis yang dialami Rohingya, diikuti dengan diaspora global, telah menciptakan situasi yang gawat bagi kelestarian bahasa ini. Namun, resiliensi komunitas Rohingya tercermin dalam berbagai inisiatif pelestarian yang telah diluncurkan—dari program pendidikan sederhana di kamp pengungsian hingga platform dokumentasi digital yang sophisticated.

Masa depan bahasa Rohingya bergantung pada komitmen berkelanjutan dari komunitas Rohingya, dukungan institusional yang memadai, dan pengakuan internasional tentang pentingnya bahasa ini sebagai bagian dari warisan budaya manusia. Dengan terus mendokumentasikan, mengajar, dan merayakan bahasa Rohingya, komunitas ini tidak hanya melestarikan bahasa mereka, tetapi juga mempertahankan identitas, martabat, dan harapan untuk masa depan yang lebih adil dan inklusif.

Bahasa Rohingya adalah suara yang harus didengar—suara yang menuntut keadilan, mengungkap sejarah yang terhapus, dan menegaskan kemanusiaan komunitas yang telah lama dimarjinalkan.

Photo by: Mehdi Khoshnejad, Pexel

Ruang Iklan

Tersedia untuk sponsorship

Bagikan Artikel

Berlangganan

Dapatkan Berita Terbaru

Daftarkan email atau nomor WhatsApp Anda dan kami akan mengirimkan berita-berita pilihan langsung ke Anda.

Kami tidak akan mengirimkan spam. Berhenti berlangganan kapan saja.